Ilustrasi lahan kritis.

Menteri LHK: Pemerintah Berupaya Kurangi Lahan Kritis

Ilustrasi lahan kritis. (Ist)

Magelang - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, mengatakan, pemerintah terus berupaya mengurangi 24 juta hektare lahan kritis secara nasional.

"Salah satunya bekerja sama dengan sejumlah pihak, mulai pemerintah daerah, LSM, perusahaan, masyarakat hingga akademisi termasuk dengan UGM yang pada perayaan Dies Natalis ke-67 melakukan penghijauan di Lereng Gunung Merapi," kata Siti Nurbaya, di Magelang, Sabtu (17/12).

Ia mengatakan hal tersebut dalam penanaman pohon di Lereng Gunung Merapi di Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, yang diselenggarakan Universitas Gadjah Mada.

"Kami menyambut baik apa yang dilakukan UGM ini. Apalagi tadi, kami mendengar rencana yang akan menjadikan Gunung Merapi sebagai pusat sains, laboratorium, penelitian dan pengabdian. Bahkan, katanya, saat ini sudah bekerja sama dengan para ahli dari Prancis dan Jerman terkait hal tersebut," katanya.

Khusus di Merapi, kata Siti, pihaknya juga akan mengawal landschape akibat letusan-letusan yang masih sering terjadi. Apalagi, banyak masyarakat yang memintanya dan di sekitarnya juga banyak penambang pasir.

Ia menuturkan pasir merapi dikenal memiliki kualitas nomor satu di Indonesia dan nomor dua di dunia. Semoga dengan ini, masyarakat sekitarnya menjadi lebih paham akan karakternya, dan semakin sejahtera kehidupannya.

"Apalagi, kini juga mulai dikembangkan menjadi lokasi wisata dan kunjungan wisata alam trennya sejak 2015 terus naik," katanya.

Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian dan pengabdian, Budi Widodo, mengatakan setelah memiliki sekolah sungai, pihaknya akan menjadikan Gunung Merapi sebagai pusat laboratorium dan penelitian.

"Saat ini kami sudah menggandeng ahli dari Prancis dan Jerman. Merapi akan menjadi sekolah gunung. Ke depan, kami akan memberikan teknologi rekam data dan lainnya sehingga masyarakat di Srumbung dan di kawasan rawan bencana (KRB) III lainnya, bisa berinovasi dan melakukan penyelamatan sedini mungkin," katanya.

Pada kesempatan tersebut panitia berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp427 juta sebagai bagian adopsi pohon dari para alumni UGM yang datang dalam kegiatan penanaman pohon.

Adopsi diberikan untuk satu pohon yang ditanam Rp 125.000. Selanjutnya, uang adopsi yang terkumpul diberikan kepada Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) untuk perawatan dan pemeliharaan tanaman ke depan.

"Kami ingin menyelamatkan Merapi melalui adopsi pohon ini," kata Budi Widodo.



/FER

ANTARA