Produk Rekayasa Genetika Dukung Ketahanan Pangan

Produk Rekayasa Genetika Dukung Ketahanan Pangan
Apel rekayasa genetika dari Okanagan diklaim mampu bertahan dan tidak berubah menjadi kecokelatan setelah dikupas atau diiris. ( Foto: Arctic Apples )
Vento Saudale / FER Kamis, 18 Oktober 2018 | 21:12 WIB

Bogor - Guru Besar Ekonomi Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Parulian Hutagaol, mengungkapkan, teknik rekayasa genetika pada pangan pertama kali dikembangkan untuk menjawab berbagai permasalahan seperti ketahanan pangan dan perubahan iklim.

"Sayangnya, Indonesia masih ada kekhawatiran tanaman bioteknologi mengganggu lingkungan. Alhasil, uji lingkungan, pangan, dan pakan yang ada di level pemerintah memakan waktu yang tidak sebentar," kata Parulian dalam diskusi Hari Pangan Nasional (HPN) 2018, di Kampus IPB Barangsiang, Kota Bogor, Kamis (18/10).

Parulian mengatakan, pihaknya melihat tak ada alasan Indonesia untuk menghambat produk rekayasa genetika (PRG). Kenyataannya, jagung dan gula yang diimpor merupakan produk-produk PRG.

"Kita makan. Lalu kenapa kita larang menanam? Berarti kta lebih menyukai uang kita diberi kepada asing, dan memberi lapangan kerja bagi negara lain," tandasnya.

Menurutnya, teknologi rekayasa pangan dapat memberikan manfaat yang besar terutama untuk pemanfaatan produk pertanian. Namun, hal tersebut memerlukan kehati-hatian dan kecermatan agar tidak menimbulkan sesuatu yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan bagi keanekaragaman hayati, lingkungan, dan kesehatan manusia.

"Rekayasa genetika pangan mulai dilakukan riset dua dekade lalu. Hasil riset tersebut masih perlu sertifikasi pemerintah untuk bisa di produksi secara masal," paparnya.

Parulian mengatakan, Indonesia sendiri belum berhasil mengembangkan tanaman transgenik secara masal. "Di lingkungan Asia, hanya Indonesia yang belum mengelola secara mandiri pengembangan pangan rekayasa genetika sudah lebih maju dan marak dilakukan," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE