Inflasi Perdesaan di Bali Tertinggi di Indonesia

Inflasi Perdesaan di Bali Tertinggi di Indonesia
Two Face of Bali ( Foto: Prime Plaza Hotel )
/ MUT Sabtu, 2 November 2013 | 13:29 WIB

Denpasar - Bali mengalami inflasi perdesaan sebesar 1,05 persen pada Oktober 2013, atau paling tinggi dibanding daerah lainnya di Indonesia, karena inflasi tingkat nasional hanya 0,31 persen.

"Dari 32 provinsi di Indonesia yang menjadi sasaran pengamatan, 21 provinsi di antaranya mengalami inflasi perdesaan, dan 11 provinsi lainnya deflasi perdesaan," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Gede Suarsa di Denpasar, Sabtu.

Ia mengatakan Bali mengalami inflasi tertinggi dibanding 21 provinsi lainnya di Tanah air. Sementara inflasi perdesaan terendah terjadi di Papua Barat hanya 0,07 persen.

Sebelas provinsi di Indonesia yang mengalami deflasi perdesaan, tertinggi terjadi di Maluku Utara sebesar 0,60 persen dan terendah terjadi di Sulawesi Barat hanya 0,02 persen.

Gede Suarsa menjelaskan, inflasi perdesaan di Bali yang paling tinggi di Indonesia itu dipicu oleh naiknya nilai tukar petani (NTP) sebesar 0,16 persen dari 106,82 persen pada September 2013 menjadi 107 persen pada bulan oktober 2013.

Kondisi itu menunjukkan posisi daya tukar petani Bali lebih tinggi dari rata-rata NTP nasional yang tercatat 105,30 persen. Itu artinya tingkat kesejahteraan petani Bali masih lebih baik dibanding rata-rata secara nasional.

Subsektor utama yang mendorong naiknya NTP Bali adalah subsektor peternakan yang mengalami kenaikan sebesar 0,73 persen. Berbagai komoditas pertanian yang dihasilkan petani dikelompok dalam lima subsektor, yakni tamanan pangan, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan.

NTP diperoleh dari perbandingan indeks yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani semakin tinggi NTP, namun semakin kuat pula tingkat kemampuan daya beli petani.

NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian terhadap barang dan jasa yang diperlukan petani untuk konsumsi rumah tangga, tutur Gede Suarsa.

Sumber: ANT
CLOSE