Ilustrasi uang rupiah
Kisaran nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tahun depan diperkirakan antara 8.900 hingga 9.000.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan rata-rata nilai tukar rupiah tahun depan akan berkisar pada Rp 8.900-9.000 per dolar AS. Angka ini lebih rendah dari target yang dipatok pemerintah dalam APBN, yaitu Rp 8.800 per dolar AS.

Sementara, BI akan menjaga nilai tukar rupiah sampai akhir tahun pada level 9.100 rupiah per dolar AS. Demikian disampaikan oleh Deputi Gubernur BI, Hartadi A Sarwono, di sela acara "Outlook Ekonomi 2012 BNI & Kompas 100 CEO Forum" di Jakarta, Senin (12/12).

Menurut Hartadi, asumsi yang dipakai pemerintah dalam APBN 2012, belum memperhitungkan faktor utang krisis Eropa. "Ya, mungkin akan sedikit (ada) pelemahan dari situ, karena waktu ditetapkan 8.800, belum krisis. Jadi mungkin akan sedikit (ada) perlemahan dari sana. Tapi tidak akan bergerak jauh (dari) 8.900 (rupiah). Rata-rata setahun 8.900-9.000 (rupiah)," ujar Hartadi.

Lebih jauh, Hartadi menjelaskan, pelemahan rupiah ini terjadi seiring dengan pelemahan mata uang negara-negara berkembang lainnya. Pada saat krisis, kata Hartadi, para investor akan mencari tempat investasi yang paling aman. "Dan sampai saat ini, surat utang Amerika masih dipandang sebagai save haven," ujarnya.

BI mencatat, rupiah mengalami depresiasi 8,5 persen terhadap dolar AS, dari posisi terkuatnya 8.418 pada 2 Agustus, menjadi 9.139 pada 29 November. Sementara hari ini, BI mencatat kurs tengah rupiah di 9.040 per dolar AS.

Hartadi berkata, BI akan terus aktif di pasar dan menjaga rupiah di kisaran 9.100 per dolar AS, sampai dengan akhir tahun ini. "Maksimum Rp 9.100, kemudian menguat di sekitar level itu. Waktu itu saya ceritakan, dibandingkan 2008, pernah sampai Rp 12.000," tuturnya.

Penulis: /SES