Pengamat: Prioritaskan Dana Desa untuk Kemiskinan

Dana desa yang digunakan untuk meningkatkan kualitas jalan di Desa Margodadi, Seyegan, Sleman, DI Yogyakarta. (Antara)

Oleh: Kunradus Aliandu / NAS | Selasa, 10 Januari 2017 | 10:00 WIB

Jakarta - Pengamat ekonomi Aviliani mengharapkan pemanfaatan dana desa pada 2017 sebaiknya diprioritaskan untuk pengentasan kemiskinan. Pasalnya, jumlah kemiskinan hingga kini belum berkurang secara signifikan.

"Prioritas dana desa pada 2017 untuk pengentasan kemiskinan karena sekarang ini kemiskinan tidak terkurangi dengan signifikan," kata Pengamat Ekonomi Aviliani, di Jakarta, Senin (9/1).

Komisaris Independen PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tersebut berharap dana desa dapat dimanfaatkan untuk dua program, yaitu pemberdayaan masyarakat dan pengembangan industri padat karya yang mempekerjakan masyarakat miskin.

"Dana desa harus untuk pemberdayaan, jangan untuk proyek. Jangan untuk infrastruktur yang tidak langsung ke orang," ujarnya.

Pemerintah telah mengalokasikan anggaran dana desa 2017 sebesar Rp 60 triliun, atau meningkat dibandingkan tahun lalu sebesar Rp 46,98 triliun. Sedangkan di 2018, dana desa rencananya ditingkatkan menjadi dua kali lipat dari alokasi 2017.

Aviliani menilai pemanfaatan dana desa tersebut harus disesuaikan dengan kepentingannya, sehingga kemudian tidak semua desa mendapatkan dana dari pemerintah.

"Misalnya tahun depan dimajukan dulu mana yang disetujui dan mana yang tidak, sehingga tidak otomatis semua desa mendapat dana. Kalau desanya sudah sejahtera, maka tidak perlu lagi dipasok dana," kata dia seperti dikutip Antara.

Sarana Olahraga
Di tempat terpisah, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro justru menyarankan dana desa dialokasikan untuk membangun sarana dan prasarana olahraga.

"Dengan adanya lapangan untuk olahraga maka masyarakat akan berkumpul, sehingga keakraban antara warga desa dapat tercipta. Keakraban itu penting untuk membangun desa," kata Eko Putro pada acara Sarasehan Desa di Jakarta.

Pembangunan sarana dan prasarana olahraga tersebut menjadi program yang dapat dijalankan oleh desa. Dia mengatakan setidaknya Rp 50 juta dari dana desa dipergunakan untuk membangun sarana dan prasarana olahraga.

Kementeriannya juga akan bekerja sama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk mendorong adanya kegiatan olahraga dan membuat liga-liga desa.

"Saat ada liga desa, di situ juga akan ada kegiatan ekonomi. Banyak pedagang yang akan menjajakan jualannya," kata Eko.
Selain bidang olahraga, program dana desa juga akan dialokasi untuk membuat embung-embung yang dapat digunakan petani mengaliri sawahnya saat musim kemarau.

"Presiden menargetkan ada pembuatan 30 ribu embung dengan perkiraan dana sekitar Rp 20 triliun," kata Eko.

Eko mengatakan dengan adanya embung, petani dapat menanam hingga tiga kali dalam satu tahun tanpa takut kekurangan air saat musim kemarau, hal ini juga penting demi menjaga ketahanan pangan nasional. Dia juga memperkirakan pendapatan para petani dapat meningkat hingga dua kali lipat.

Program lainnya yang terus didorong oleh pemerintah adalah gerakan "satu desa satu produk" di mana setiap daerah dapat mengembangkan jenis produk lokal dan memiliki keunikan serta kekhasan yang tidak dapat ditiru oleh daerah lain.

 




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT