Menaker Minta Perkuat Karakter dan Daya Saing i

Menaker memberikan sambutan pada acara Peresmian Desmigratif Kuripan di Wonosobo.

Oleh: Kunradus Aliandu / NAS | Selasa, 10 Januari 2017 | 10:11 WIB

Semarang - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Hanif Dhakiri mengajak masyarakat Indonesia untuk memperkuat karakter bangsa. Hal ini menurutnya sangat penting agar masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda tidak mudah termakan oleh informasi dan berita yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Selain itu, karakter yang kuat juga dinilainya penting di era persaingan saat ini. Masyarakat yang berdaya saing adalah masyarakat yang kompeten sekaligus berkarakter. "Saat ini yang namanya karakter itu nomor 1. Yang di dalam dunia kerja, dunia karir, namanya karakter itu nomor 1," ujar Menteri Hanif saat memberikan sambutan dan arahan dalam acara 'Maulid Nabi Muhammad saw dan Haul Syaikh Abdul Qodir al-Jaelani' di Pondok Pesantren Putra-putri Ad-Danuriyyah 2 Pedurungan, Semarang, Minggu (8/1).

Menaker juga menjelaskan beberapa capaian pemerintahan Presiden Joko Widodo hingga penghujung 2016, diantaranya adalah persoalan kemiskinan, kesenjangan sosial, dan pengangguran. Gini ratio 2016 mencapai 0,397 atau mengalami penurunan dari 2015 sebesar 0,402 dan penduduk miskin (per September 2016) turun menjadi 27,76 juta jiwa (10,70%) dari periode yang sama 2015 sebesar 28,51 juta jiwa (11,22%). Angka penganguran di Indonesia pada 2016 sebesar 7,02 juta orang (5,5% dari total penduduk) atau lebih rendah jika dibanding dengan 2015 yang mencapai 7,45 juta orang (sekitar 5,81%).

"Walaupun itu menurun, hal itu tetap jadi tantangan kita semua. Karena kita ada masalah kompetensi," papar Menaker dalam keterangan tertulisnya.

Masalah rendahnya kompetensi tenaga kerja dinilai Menaker sebagai penyebab mata rantai kemiskinan."Untuk memotong mata rantai kemiskinan ini kuncinya ada di peningkatan kompetensi," jelasnya.

Sebagai upaya peningkatan kompetensi masyarakat Indonesia, pemerintah melakukan sejumlah terobosan diantaranya: Pertama, meningkatkan mutu dan akses pelatihan kerja. Hal ini ditunjang dengan sertifikasi profesi dan skema pemagangan hasil kerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Selain untuk meningkatkan peluang masyarakat Indonesia untuk memasuki lapangan kerja, skema ini juga untuk meningkatkan wirausahawan baru.

Kedua, memperkuat akses permodalan melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR). Saat ini bunga KUR terus ditekan oleh pemerintah dari semula 24% menjadi 9%. Kedepannya bunga tersebut juga akan ditekan hingga di bawah 7%.
"Makanya pemerintah mengeluarkan program KUR. Dulu bunganya 24, sekarang 9, bahkan diupayakan menjadi 7 persen," paparnya.




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT