Ekonom Minta Jangan Ada Kartel Cabai i

Ilustrasi cabai merah.

Oleh: Yudo Dahono / YUD | Selasa, 10 Januari 2017 | 19:26 WIB

Jakarta - Ekonom Institut Teknologi Bandung (ITB) Anggoro Budi Nugroho merekomendasikan cara terbaik untuk meredam lonjakan harga cabai adalah dengan solusi temporer saja. Tidak perlu struktural seperti perombakan tata niaga cabai

Pemerintah bisa melakukan intervensi pasokan cabai untuk melindungi konsumen dari kenaikan harga komoditas tersebut. Kementerian Perdagangan juga harus menjamin praktik perdagangan yang sehat.

"Harus pastikan tidak ada kartel yang mainkan. Kalau ada, polisi yang turun tangan," kata Anggoro Budi Nugroho melalui keterangan tertulis kepada Beritasatu.com, Selasa (10/1).

Lebih lanjut pengajar Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB ini menjelaskan pemicu melejitnya harga cabai lebih terkait penawaran dan permintaan (supply-demand). Lonjakan bisa karena kelangkaan pasokan, bisa meningkatnya permintaan.

Dalam kasus kali ini lebih pada aspek di kelangkaan pasokan. "Goncangannya di suplai. Sudah ketahuan ada shock karena musim," jelas Anggoro.

Ada beberapa penyebab kelangkaan pasokan yakni hama, gagal panen misal karena El Nino/La Nina, mundurnya daur panen. Selain itu ketidaklancaran distribusi, bisa di tingkat petani, pengecer atau pedagang pengumpul besar.

Anggoro menambahkan biasanya kenaikan harga cabai seiring daur laju inflasi periodik, bisa di hari raya maupun November-Desember. Sebab cabai masih menyumbang Indeks Harga Perdagangan Besar (IPHB).

Adapun marjin industri cabai masih tergolong besar, di atas 25 persen. Ini lebih tinggi dari beras walau masih di bawah jagung pipilan.

"Jika marjin industri (MPP) cabai masih besar, tetapi harganya melambung naik, maka patut diduga penyebabnya meningkatnya permintaan sebagaimana siklus akhir tahun," jelasnya.

Anggoro menjelaskan, ada 9 fungsi kelembagaan perdagangan cabai merah di Indonesia. Yang terpanjang di Jawa Tengah, yang terpendek di Sulawesi Utara.

“Tidak heran kelangkaan pasokan akan paling sensitif terhadap harga di Pulau Jawa," pungkas Anggoro.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT