Hatta Rajasa
Saat ini dunia telah memasuki fase awal globalisasi

BANDUNG. Sistem Neoliberalisme ekonomi dinilai tidak cocok untuk  diterapkan dalam perekonomian nasional karena memiliki sejumlah kelemahan seperti mudah terdistorsi pasar dan juga tidak dapat melindungi kesejahteraan masyarakatnya.
 
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menjelaskan saat ini dunia telah memasuki fase awal globalisasi, yang ditandai dengan adanya kesepakatan keterbukaan pasar atau pasar bebas baik secara bilateral maupun regional. Untuk mengantisipasi dampak negatif globalisasi seperti krisis ekonomi akibat perlambatan ekonomi Eropa dan belum pulihnya ekonomi Amerika Serikat (AS) dari resesi, maka diperlukan sikap nasionalisme.
 
“Dalam konteks inilah saya tidak percaya dengan sistem neoliberalisme, yakni pasar bebas yang sangat bebas. Karena mereka tidak mampu mengontrol kesepakatan. Pasar bebas tidak mampu memperbaiki dirinya sendiri ketika terjadi distrosi market itu sendiri,” ujar Hatta dalam acara Sarasehan Kebangsaan bertema: Menuju Era Baru Nasionalisme Ekonomi Indonesia di Kampus Intitut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat, akhir pekan ini.
 
Hatta berpendapat campur tangan negara dalam perekonomian tetap diperlukan agar terjadi pasar terbuka yang berkeadilan. Dalam hal ini, katanya, negara harus memilik akses terhadap sumber-sumber kekayaan negara tanpa bersikap diskriminatif sambil melindungi masyarakat dengan program-program sosial.
 
Meskipun dia mengakui hanya pertumbuhan ekonomi tinggi yang akan membuat  bangsa ini maju, namun fundamental bangsa tidak boleh ditinggalkan.  Fundamental yang merupakan cita-cita bangsa ini antar lain bertujuan  menciptakan masyarakat adil dan makmur, memajukan kesejahteraan umum,  mencerdasakan kehidupan bangsa dan memelihara kedamaian dunia.
 
“Kita tidak boleh lepas dari fundamental kita. Untuk itu saya menganggap  ketika orang mengatakan nasionalisme tidak menjadi relevan dalam konteks dunia global, maka saya tekankan perlu nasionalisme untuk menghadapi global itu. Nasionalisme adalah kemampuan bangsa ini untuk tidak mengimpor semua produk yang dibutuhkan,” jelas dia.
 
Lebih lanjut Hatta menjelaskan pemerintah juga memiliki strategi jitu  untuk meningkatkan daya saing nasional keseluruhan dalam menghadapi  globalisasi. Dia mencontohkan dua langkah strategi nasionalisme yang  dilakukan pemerintah dalam hal perdagangan dan investasi.
 
Dalam hal perdagangan, lanjutnya, pemerintah selalu mengutamakan  kepentingan nasional dalam setiap perundingan perdagangan internasional. Menurutnya, Indonesia mengutamakan fair trade, bukan hanya free trade,  guna memberikan keuntungan bagi semua pihak yang terlibat didalamnya.
 
Sedangkan dalam hal investasi, Hatta menegaskan pemerintah selalu  mementingkan kepentingan nasional dalam memilih investasi asing yang boleh beroperasi di Indonesia. Pembukaan sektor usaha dari negara lain  diwajibkan bersifat resiprokal.
 
“Kita harus menuntut perlakuan yang sama bagi perusahaan kita yang akan  melakukan investasi di negara asal perusahaan asing tersebut,” tegas dia. 

Penulis: /FEB