Gerebek Rumah Judi, 85 Orang Diciduk

Gerebek Rumah Judi, 85 Orang Diciduk
Polisi menggelandang 85 orang terkait tindak pidana perjudian di Mapolda Metro Jaya. ( Foto: Beritasatu.com/Bayu Marhaenjati )
Bayu Marhaenjati / CAH Rabu, 14 Maret 2018 | 18:37 WIB

Jakarta - Polisi menyergap rumah yang digunakan sebagai tempat praktek perjudian, di Jalan Dwi Warna Gang C Nomor 42 A RT 08 RW 09 Kelurahan Kartini, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat, sekitar pukul 19.00 WIB, Senin (12/3) malam. 85 orang terdiri dari bandar dan pemain digelandang ke kantor polisi, berikut barang bukti uang sekitar Rp 300 juta.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, pengungkapan kasus ini merupakan bentuk implementasi dari arahan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Idham Azis. Sekitar 7 bulan lalu, Idham pernah berkomitmen akan memberantas dan menindak tegas pelaku perjudian di Ibu Kota Jakarta dan sekitarnya.

"Kapolda sampaikan bahwa judi dilarang dan kalau ada tangkap, tindak tegas, itu arahan bapak Kapolda. Dan kemarin, tim dari Mabes Polri, Polda Metro Jaya dan Polres Jakarta Pusat berhasil melakukan pengungkapan kasus judi pai qyu dan koprok," ujar Argo, di Mapolda Metro Jaya, Rabu (14/3).

Dikatakan, berdasarkan pemeriksaan setiap pemain rata-rata memasang taruhan sekitar Rp 300.000 sampai Rp 1 juta. Namun, ada juga yang menaruh uang Rp 30 juta sekali pasang.

"Kalau pasang Rp 30 juta dapat Rp 30 juta jadi Rp 60 juta. Omzet pasti kita belum ketahui, namun kita dapat barang bukti ada sekitar Rp 300 juta," ungkapnya.

Ia menyampaikan, ada puluhan orang yang bermain di tempat perjudian dengan perputaran uang ratusan juta itu. "Kita dapat amankan 85 orang. Jadi total semua kita tahan, kita sidik sesuai dengan peran. Ada satu (warga negara asing) masih kami dalami perannya. Pasal yang kita kenakan Pasal 303 Juncto Undang-undang TPPU (tindak pidana pencucian uang)," katanya.

Pasang Mata-mata

Tim gabungan memerlukan waktu dan penyelidikan mendalam untuk membongkar tempat praktik perjudian itu. Sebab selain masuk ke dalam gang-gang, pengelola juga menempatkan mata-mata di sekitar lokasi.

"Ini saya gambarkan judi di daerah situ. Di sana gang-gang banyak sekali, jadi lewat gang-gang. Anggota juga cukup kesulitan untuk mendapatkan tempat permainan ini karena ada mata-mata di setiap gang. Jadi kalau ada anggota diketahui sampai ke dalam gang, mata-mata yang ada di setiap gang ini langsung laporan ke dalam. Jadi ini buka-tutup. Kalau sudah nggak ada polisi buka lagi," jelasnya.

Ia mengungkapkan, para pemain juga harus masuk ke dalam gang-gang menuju lokasi dengan berjalan kaki. "Jadi ke lokasi jalan kaki bukan banyak kendaraan. Ini tutup-buka. Kalau kelihatan anggota langsung dikomunikasikan. Jadi mereka kucing-kucingan."

Argo menambahkan, setiap pemain harus melakukan pendaftaran untuk menjadi member, sehingga tidak sembarangan orang bisa masuk.

"Ya untuk orang yang main merupakan member, jadi tidak sembarang orang bisa masuk. Kalau jumlah mata-mata ada beberapa, lebih dari 10 yang ada di setiap lorong dan kasih info kalau ada orang tidak dikenal. Mata-mata ada imbalan Rp 100.000 sampai Rp 200.000. Ini belum lama, sekitar setahun. Keluar-masuk dan tidak tiap hari. Kadang sampai subuh mainnya," katanya.

Ihwal apakah ada oknum yang membeking tempat perjudian itu, Argo mengungkapkan, tidak ada. Penyidik selanjutnya juga akan memeriksa RT dan RW di lokasi.

"Tidak ada ya (beking). Ya nanti kami periksa, RT/RW akan kami panggil, kami minta keterangan apakah tahu kegiatan ini. Sekarang yang terpenting masyarakat sekitar diharapkan kalau ada judi laporkan. Masyarakat turut aktif dalam berantas judi. Jadi kita tidak main-main sesuai kebijakan Kapolda," tandasnya.

Akibat perbuatannya, para tersangka dikenakan Pasal 303 KUHP subsider Pasal 303 KUHP, tentang perjudian dengan ancaman hukuman penjara maksimal 10 tahun. Kemudian Pasal 3 Juncto Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010, terkait Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, dengan ancaman
hukuman penjara maksimal 20 tahun.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE