Polisi Masih Buru 3 Anggota Kelompok Peretas SBH

Polisi Masih Buru 3 Anggota Kelompok Peretas SBH
Tiga orang tersangka jaringan hacker internasional ditunjukkan kepada wartawan saat rilis hasil perkara ilegal akses terhadap sistem elektronik milik orang lain yang dilakukan oleh kelompok peretas (Hacker) SBH di Polda Metrojaya, Jakarta, 13 Maret 2018. Tim Satuan Tugas Cyber Crime Polda Metro Jaya berhasil menangkap dua pria asal Surabaya bekerja sama dengan Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat yang meretas lebih dari 600 website dan sistem data elektronik di dalam dan luar negeri serta mengamankan sejumlah barang bukti seperti laptop, gadget, dan modem. ( Foto: Antara / Reno Esnir )
Bayu Marhaenjati / JAS Rabu, 14 Maret 2018 | 23:24 WIB

Jakarta - Penyidik Sub Direktorat Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, masih memburu tiga orang anggota kelompok hacker Surabaya Black Hat (SBH) yang belum tertangkap. Sebelumnya, penyidik sudah menangkap tiga pelaku berinisial NA, ATP dan KSP. Total pelaku berjumlah enam orang.

"Jadi sampai sekarang kami masih mencari pelaku yang tiga orang. Kami baru menangkap tiga orang. Kami akan cek posisi ada di mana, jadi kita tunggu saja tim masih bekerja," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono, Rabu (14/3).

Sementara itu, Kasubdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Roberto Pasaribu mengatakan, keenam anggota SBH itu telah melakukan uji penerobosan ilegal (illegal penetration testing) terhadap sekitar 3.000 sistem elektronik, di 44 negara.

"Untuk illegal access ini, penetration testing yang dilakukan secara ilegal 3.000 sistem itu, hanya dilakukan oleh enam orang ini," ungkapnya.

Ia menyampaikan, kelompok SBH sempat hidup dan mati. Salah satu tersangka berinisial KPS merupakan pendiri dari SBH. Mereka sempat mendeklarasikan bertanggung jawab atas peretasan enam situs pemerintahan, di Jawa Timur, pada tahun 2016-2017.

"Ini kan komunitas ya. Kalau bicara komunitas kayak grup ya, ini juga grup. Keanggotaan sendiri secara kopi darat mereka belum pernah. Jumlahnya banyak, berdasarkan forum grup yang tercatat itu 707 anggota. Iya dari Indonesia. Ini jadi mereka bertukar informasi di dalam grup," katanya.

Menyoal apakah ada orang asing di dalam grup itu, Roberto mengaku, belum bisa memastikannya. Penyidik masih mendeteksinya.

"Belum bisa kami deteksi ke sana karena sekarang mereka begitu ketangkap dan ramai, sudah menutup forum chat-nya. Jadi kami masih mengandalkan kekuatan dari analisa digital forensik. Mereka punya forum salah satunya menggunakan aplikasi Telegram. Mereka semua berbicara di sana, mengirimkan data, dan memang kebanyakan dari mereka adalah bertukar informasi mengenai bagaimana kegiatan illegal access bisa dilakukan," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE