Remaja Korban Pemerkosaan Meninggal Dunia Akibat Depresi

Remaja Korban Pemerkosaan Meninggal Dunia Akibat Depresi
Kapolres Bogor Ajun Komisaris Besar AM Dicky merilis kasus dugaan pemerkosaan dengan korban anak di bawah umur di Mapolres Bogor, Cibinong, Jumat 13 Juni 2018. ( Foto: Beritasatu.com / Vento Saudale )
Vento Saudale / FMB Jumat, 13 Juli 2018 | 11:12 WIB

Bogor - Korban pemerkosaan FN (17) warga Gunung Putri, Kabupaten Bogor meninggal dunia akibat mengalami depresi.

Kapolres Bogor, Ajun Komisaris Besar AM Dicky dalam keterangannya di Mapolres menuturkan, pengungkapan kasus setelah polisi menerima laporan dugaan perkosaan oleh orang tua FN pekan lalu.

"Kasus ini pertama kali dilaporkan oleh keluarga setelah korban FN meninggal dunia Selasa (3/7). Di mana korban sebelum meninggal, selama sekitar seminggu itu mengalami gangguan psikis, depresi, yang berarti korban tidak mau makan, kondisinya kemudian semakin drop, dalam keadaan sakit juga, dan akhirnya meninggal," kata Dicky, Jumat (13/7).

Dari situ pihak keluarga merasa curiga kemudian mencari keterangan. Berdasarkan keterangan salah satu rekan FN, diketahui korban pernah mendapatkan kekerasan seksual.

"Korban diperkosa bergilir. Berdasarkan keterangan tersebut pihak keluarga korban melapor dan kami melakukan penyelidikan dan meningkatkan status terkait kasus ini ke penyidikan dan saat ini kasus penyidikan kita sudah menetapkan tujuh orang tersangka," paparnya. Ditambah saksi-saksi total ada 15 saksi yang sudah diperiksa.

Tersangka yang diamankan dalam kasus ini yaitu ISH (15), ARN (14), MR (18), MDF (20), RS(22), N (22), dan A (22). Polisi masih mengejar satu tersangka lain yang diduga terlibat dalam perkosaan.

Adapun barang bukti yang diamankan, satu lembar karpet warna merah, satu buah celana panjang warna cokelat muda, satu buah celana dalam warna merah muda, satu unit sepeda motor dan satu buah telepon selular.

Para tersangka dijerat tindak pidana persetubuhan dan pencabulan terhadap anak sebagaimana dimaksud dalam pasal 81 dan 82 UU No 35 tahun 2014 perubahan atas UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana paling lama maksimal 15 tahun.

 



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE