Perhatian Keluarga Korban Perkosaan di Bogor Terlambat

Perhatian Keluarga Korban Perkosaan di Bogor Terlambat
Para pelaku perkosaan terhadap anak di bawah umur diamankan di Mapolres Bogor, Jumat (13/7/2018). ( Foto: Vento Saudale )
Vento Saudale / BW Sabtu, 14 Juli 2018 | 12:50 WIB

Bogor- Seorang remaja perempuan di Kabupaten Bogor tewas akibat depresi berat setelah diperkosa delapan pemuda kenalannya. Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) menyesalkan keterlambatan teman dan orang tua korban melaporkan kasus tersebut.

"Begitu mendengar kasus itu, saya langsung ke kantor polisi. Ternyata polisi mendapat laporannya setelah korban meninggal," kata Ketua P2TP2A Kabupaten Bogor Euis Kurniasih, Sabtu (14/7). Ia menilai kondisi psikologis korban sangat tertekan hingga meninggal dunia sepekan setelah kejadian.

Menurut informasi yang ia terima, korban berinisial FN takut menceritakan kejadian tersebut kepada orang tuanya. Korban diketahui hanya menceritakannya pada seorang teman yang juga merahasiakan itu hingga meninggal dunia pada 3 Juli 2018 lalu.

Euis mengatakan, korban menutup diri di kamarnya setelah kejadian pemerkosaan pada 26 Juni 2018. Namun, ia menduga orang tua korban menghiraukan perilaku korban yang menyimpang itu dan menganggapnya perilaku biasa saja. Permasalahan yang dialami korban baru diketahui setelah temannya bercerita setelah korban meninggal.

Setelah kasus itu dilaporkan ke kepolisian, Euis mengakui pihaknya akan melakukan pendampingan kepada para pelaku yang masih di bawah umur dan keluarga mereka. "Kita juga mencari tahu informasi yang berkaitan untuk menentukan upaya pencegahan apa agar masalah seperti ini tidak terjadi kembali," katanya.

Menurut pengamatannya, sikap orang tua dan masyarakat di sekitar korban cenderung menghakimi tanpa memberikan solusi untuk menyelamatkan masa depan korban. Penanganan kasus serupa dianggap masih sering terlambat hingga merugikan korban.

Pihak P2TP2A meminta orang tua korban segera melaporkan kasus serupa sehingga korban bisa berkonsultasi dengan psikolog dan psikiater yang ada di lembaganya. Korban yang mengalami depresi berat, menurut Euis, tidak hanya ditangani psikolog tapi ada analisa psikiater untuk mengobatinya.

P2TP2A setempat juga mendorong pemerintah daerah meningkatkan langkah antisipasi kasus-kasus serupa ke depannya. "Masyarakat Kabupaten Bogor ini masih kurang melaporkan kasus-kasus serupa. Pemerintah harus melakukan langkah antisipasi agar kejadian seperti ini tidak terulang," katanya.

Satu Pelaku Buron
Kepolisian Resor Bogor telah menangkap tujuh dari delapan pelaku pemerkosaan tersebut. Mereka adalah ISH alias IB (15), ARR (14), MR (18), MDF (20), RS (22), N (22), dan A (22). Seorang pelaku lainnya, AH (20) masih dalam pengejaran petugas.
Kepala Polres Bogor, Ajun Komisaris Besar Andy M Dicky Pastika menuturkan, tujuh dari delapan pelaku pemerkosaan bergilir dengan menyebabkan kematian seorang gadis berusia 16 tahun telah ditahan Kepolisian Resor Polres Bogor guna penyelidikan.

FN merupakan gadis remaja asal Gunungputri. Korban disetubuhi secara bergiliran oleh delapan pemuda di lokasi rumah kosong di daerah Citereup, Kabupaten Bogor.

Dicky menambahkan, pihaknya menetapkan delapan pemerkosa dengan dua di antaranya masih di bawah umur.
“Mereka ditetapkan sebagai tersangka dalam tindak pidana pencabulan dan persetubuhan dengan ancaman 20 tahun penjara,” tambahnya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE