Ilustrasi pelecehan seksual dengan wanita sebagai korban.

Jakarta - S (34), ibu kandung Er (14), mengaku sempat diajak damai oleh orangtua salah satu pemuda yang diduga memperkosa anaknya di Jakarta Timur, pada awal Maret lalu. Penawaran damai itu terjadi beberapa hari setelah S melaporkan kasus pemerkosaan yang menimpa anaknya ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Jakarta Timur. Tindakan orangtua salah satu pelaku berinisial IL itu diduga dilakukan untuk menutup tindak pidana yang dilakukan anaknya.

"Sekitar pertengahan Maret saya dihubungi keluarga IL. Dia mengajak bertemu untuk bertamai. Tawaran damai diminta tak hanya sekali. Dia meminta hingga berulang kali," kata S di Jakarta, Minggu (7/4).

S menyatakan, tawaran itu ditolaknya. Pasalnya, tawaran damai dianggap telah merendahkan dirinya. Apalagi, menurut S, tindakan IL dan belasan pemuda lainnya terhadap Er sudah tergolong bejat, dan tak dapat dimaafkan.

Tak hanya permintaan untuk berdamai, S juga diminta untuk mencabut laporannya di Polres Jakarta Timur. "Mungkin bosan juga jadi sekarang mereka sudah tidak menghubungi dan meminta damai lagi," kata dia.

Seperti diketahui, IL merupakan salah satu dari belasan pemuda yang diduga melakukan kekerasan seksual kepada Er. Lima pemuda, termasuk IL berhasil ditangkap petugas dari Polres Jakarta Timur.

"Lima pelaku sudah kami tangkap," kata Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur, AKBP M Saleh.

Dikatakan Saleh, kelima tersangka saat ini mendekam di tahanan Polres Jakarta Timur. Meski demikian, Saleh enggan menyebut identitas para tersangka dan peran mereka dalam kasus yang membuat korban mengalami trauma tersebut.

"Saya sudah minta ke kepala unit supaya dilaporkan ke Kapolres. Nanti Kapolres yang akan menyampaikan penangkapan lima pemuda ini," katanya.

Diberitakan, Er merupakan siswi kelas VIII SMP diduga menjadi korban pemerkosaan oleh lebih dari 10 pemuda pengangguran. Peristiwa yang terjadi pada awal Maret lalu ini bermula dari perkenalan korban berinisial Er dengan IL melalui jejaring sosial Facebook. Dengan diimingi diberikan sebuah handphone Blackberry, Er menyetujui ajakan kopi darat pemuda yang baru dikenalnya melalui dunia maya itu.

Pada Jumat (1/3) lalu, di tempat yang telah ditentukan, sepulang sekolah, Er langsung menemui pelaku. "Waktu ketemu itu, dia masih bilang mau kasih BB, sampai sumpah segala. Dia terus mengajak saya ke rumahnya yang waktu itu lagi sepi. Di rumah itu saya dipegang-pegang, saya menolak, tapi terus dipaksa," kata Er kepada wartawan, Jumat (5/4) malam.

Melihat gelagat yang tidak baik dari pemuda pengangguran itu, Er meminta diantarkan pulang. Namun, pelaku yang selalu merayu korban justru berhasil membujuknya ke tempat nongkrong di sebuah pemukiman di daerah Jakarta Timur, dan dikenalkan dengan teman-teman IL. Er sempat menghubungi seorang kawannya dan memberitahukan posisinya. Di tempat nongkrong yang berisi para pemuda yang rata-rata berusia 20 tahun itu, seorang teman IL berinisial RK kemudian memaksa korban menenggak minuman keras.

"Setelah itu saya mabuk dan dibawa ke sebuah rumah kontrakan teman mereka namanya R. Saya sudah tidak mengingat apapun, tapi ketika bangun kemaluan saya perih dan ngilu. R bilang saya digilir oleh teman-teman mereka. Lebih dari 10 orang," ungkapnya.

Tak hanya itu, Er melanjutkan, dirinya sempat disekap di rumah itu. Pada malam kedua, Er kembali mengalami kekerasan seksual. Korban sempat berontak tak berdaya dengan tindakan para pemuda yang kebanyakan berusia lebih dari 20 tahun itu.

"Saya sempat berontak, tapi tangan dan kaki saya dipegangi, saya sudah tidak bisa melawan lagi," paparnya.

Mengetahui anaknya tidak kembali ke rumah, ibu korban, S (34), melapor ke Polsek Pasar Minggu, dan mencoba mencari informasi tentang keberadaan putrinya kepada kawan-kawan dekatnya, termasuk kepada Tr. Dari sahabat dekat putrinya itu, diketahui keberadaan Er di sebuah rumah kontrakan di kawasan Jakarta Timur.

"Akhirnya, ada keponakan saya yang berinisiatif mencari ke daerah yang disebut oleh temannya, akhirnya anak saya diketemukan," ujar S.

S menuturkan, setibanya di rumah, anaknya itu terlihat syok. Korban memeluk dan menangis histeris. Setelah mulai tenang, keesokan harinya, Er menceritakan peristiwa yang dialaminya.

"Saya pun langsung melaporkan kembali ke Polsek Pasar Minggu, dari sana saya diantar ke Polres Jakarta Timur untuk membuat laporan kasus tersebut," katanya.

Akibat peristiwa tersebut, korban mengalami trauma. Bahkan untuk menghindari ejekan dari kawan-kawannya, Er terpaksa pindah sekolah dan rumah.

Suara Pembaruan

Penulis: F-5

Sumber:Suara Pembaruan