Petugas mengoperasikan ekskavator untuk mengeruk Kali Pakin, Penjaringan, Jakarta Utara.

Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta semakin aktif melakukan normalisasi sungai di seluruh wilayah ibu kota. Langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi banjir saat terjadi pada musim penghujan di tahun ini.

Untuk menormalisasi sungai tersebut, Pemprov DKI telah menurunkan sebanyak 57 alat berat. Alat tersebut untuk mengeruk sedimen sungai sehingga menambah daya tampung sungai terhadap air hujan lokal.

"Kami jalan terus untuk menormalisasi sungai. Kami sudah targetkan 100 alat berat harus turun untuk melakukan pengerukan sedimen di sungai-sungai. Sebenarnya kami targetkan ada 200 alat berat yang didatangkan," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), di Balai Kota DKI, Jakarta, Senin (8/4).

Ahok mengungkapkan, saat ini, sudah ada 57 alat berat diturunkan untuk menormalisasi waduk dan sungai. Hanya saja, alat berat tersebut bekerja di lapangan sekitar 2 hingga 3 jam. Karena itu, pihaknya akan terus mengevaluasi kinerja alat berat dan suku dinas pekerjaan umum di lima wilayah Jakarta.

"Kami masih harus evaluasi. Kami sudah gerakkan semua suku dinas pekerjaan umum untuk turun. Suku dinas yang tidak mau nurut, kami akan copot. Jadi kami ingin pengerukan sungai dikerjakan secara rutin," tegasnya.

Seperti diketahui, setelah banjir besar melanda Jakarta, Pemprov DKI mulai melakukan normalisasi di beberapa waduk. Di antaranya Kali Pakin yang bermuara di Waduk Pluit, sebanyak 3 Alat berat terus bekerja di pinggiran Kali Pakin. Satu alat berat dikerahkan merobohkan tembok-tembok bangunan di pinggiran kali.

Sebab, Waduk Pluit yang awalnya seluas 80 hektare (ha) kini menyusut menjadi hanya 60 ha. Seluas 20 ha ternyata sudah diokupasi oleh ribuan warga dalam bentuk rumah-rumah gubuk maupun semipermanen.

Untuk mengatasi banjir melalui normalisasi sungai, Pemprov DKI telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 450 miliar. Anggaran itu digunakan khusus untuk pembebasan lahan bagi normalisasi kali-kali besar di Ibu Kota, yaitu normalisasi Sungai Pesanggrahan, Sungai Angke, dan Sungai Sunter, yang diyakini dapat mengurangi 10 titik banjir.

Penulis: Lenny Tristia Tambun