Ilustrasi seorang tahanan di borgol.

Jakarta - Polisi Khusus Kereta Api (Polsuska), membekuk dua dari enam pelaku pemerasan, di dalam Kereta Rel Listrik (KRL) jurusan Kota-Rangkasbitung. Modus para pelaku, berpura-pura menuduh korban telah menganiaya keluarga atau saudaranya.

Wakapolsek Pesanggrahan, Ajun Komisaris Polisi Yajianto, menuturkan kedua pelaku atas nama Nano (22) dan Andrianof (26), ditangkap Polsuska setelah melakukan pemerasan terhadap Mardani (22), di KRL jurusan Kota-Rangkasbitung, saat melintas di kawasan Bintaro, Pesanggrahan, Selasa (23/4) sore. Para bandit itu memeras Mardani dengan modus menuduh korban telah menganiaya saudaranya.

"Kelompok ini, sudah belasan kali beraksi di atas kereta dengan modus pura-pura menuduh korbannya telah mencelakai keluarganya," ujarnya, Rabu (24/4).

Yajianto menjelaskan, kronologis kejadian berawal saat Mardani naik KRL ekonomi jurusan Kota-Rangkasbitung dan duduk di gerbong dua.

Ketika melintas di kawasan Bintaro, para pelaku tiba-tiba mendatangi korban dan langsung menuduhnya telah menganiaya kerabatnya. "Salah seorang pelaku bahkan sempat memukul korban," ungkapnya.

Terus dituduh, kata Yajianto, Mardani pun tak berkutik ketika barang berharga miliknya dikuras penjahat. Alhasil, ponsel merek Nokia, Samsung Galaxy dan uang Rp 50.000 milik korban pun berpindah ke tangan.

Setelah mendapat barang yang diinginkan, lanjutnya, para pelaku kemudian pindah gerbong. Namun, setibanya di Stasiun Pondok Ranji, dua pelaku ditangkap petugas Polsuska dibantu penumpang. Sedangkan empat pelaku lainnya berhasil kabur.

"Petugas Polsuska menghubungi Polsek Pesanggrahan dan kami menjemput pelaku, kemudian membawanya ke Polsek Pesanggrahan untuk diperiksa lebih lanjut. Saat ini, kami masih memburu empat pelaku lainnya," ungkap Yajianto.

Menurutnya, berdasarkan keterangan tersangka, uang hasil kejahatan dibagi rata. Biasanya, mereka menyamar menjadi pengamen untuk mengelabui petugas. "Para pelaku kami kenakan Pasal 365 KUHP dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara," tegas Yajianto.

Penulis: Bayu Marhaenjati