Pelepasan jenazah Tito Kei dari rumah duka di Tytyan Indah, Kota Bekasi menuju Bandara Soetta, Minggu (2/6) malam.

Jakarta - Guna mengungkap motif kasus penembakan Tito Refra Kei dan Ratim, penyidik kepolisian bakal menelusuri ke belakang, apakah korban pernah terlibat perselisihan atau punya musuh dengan pihak lain.

"Kita dalami lagi apakah di belakang sebelum penembakan, ada peristiwa-peristiwa yang membuat hal itu (penembakan) terjadi. Seperti, punya musuh, konflik atau perselisihan. Kita akan bikin timeline ke belakang, apakah ada masalah antara korban dengan seseorang atau kelompok tertentu. Barangkali itu bisa menjadi masukan," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes (Pol) Rikwanto, di Mapolda Metro Jaya, Senin (3/6).

Dikatakan Rikwanto, pihaknya telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa saksi sementara. Penyidik bakal menunggu pihak keluarga dan saksi untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya, setelah melalui masa berkabung.

"Dari pihak korban masih berkabung. Belum bisa me-review lagi. Setelah masa berkabung, kita akan selidiki lagi mungkin ada data-data yang akan menggiring kita untuk pengungkapan kasus, seperti apakah ada konflik sebelumnya, apakah ada masalah, perselisihan mungkin antar geng atau dalam kapasistasnya sebagai pengacara menemukan suatu kasus yang menonjol sehingga mendapat ancaman. Ini akan didalami lagi untuk mengungkap motif," tandasnya.

Sementara itu, Kasubdit Reserse Mobil (Resmob) Direktorat Reserse Kriminal Umum, AKBP Herry Heriyawan, menegaskan tewasnya Tito Kei, tidak ada kaitannya dengan kericuhan di Cafe Liquid, Semarang, Kamis (30/5) lalu.

"Itu tidak ada kaitannya. Sudah saya tanyakan dengan yang di sana (aparat hukum di Jawa Tengah), itu nggak ada kaitannya dengan kasus Tito kemarin," singkatnya.

Sebelumnya diketahui, sehari sebelum peristiwa penembakan Tito Kei, terjadi kericuhan antara sekelompok pemuda dengan oknum TNI di Cafe Liquid, lantai 2 Gedung Thamrin Square, Jalan Thamrin, Semarang, Kamis (30/5).

Peristiwa kericuhan itu, diduga berawal ketika beberapa pemuda menyambangi Cafe Liquid dan memaksa untuk tidak membayar. Karena tidak diijinkan masuk, mereka memukuli petugas sekuriti cafe. Pada saat bersamaan, seorang aparat keamanan yang kebetulan berada di lokasi mencoba melerai aksi baku hantam itu. Namun, sekelompok pria tadi malah balik memukul aparat keamanan.

Pasca keributan itu, Rido Hehanusa (33) warga Semarang, Jawa Tengah, asal Ambon, meregang nyawa diduga dianiaya sejumlah oknum anggota TNI.

Penulis: Bayu Marhaenjati/YUD