Para tersangka penipuan dan penggelapan barang, di Mapolda Metro Jaya

Jakarta - Subdit Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, membekuk empat tersangka kasus penipuan atau penggelapan barang dengan modus mendirikan sebuah CV serta menyewa kantor dan gudang agar korban percaya.

Juru Bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Rikwanto, mengatakan para tersangka berinisial YP alias A (66), S (61), TDT alias A (61), dan seorang perempuan tua ISP alias S (50).

"Para tersangka ditangkap di Sunter Jakarta Utara, Cempaka Putih Jakarta Pusat dan Depok, Rabu (5/6). Pada saat penangkapan, para tersangka tengah menjalani proses penyewaan Ruko (Rumah Toko) untuk melakukan transaksi penipuan baru dengan korban lain," ujar Rikwanto, di Mapolda Metro Jaya, Jumat (7/6).

Dikatakan Rikwanto, pengungkapan kasus penipuan itu berawal dari laporan polisi bernomor LP/605/V/2013/Polda Metro Jaya dan LP/241/K/V/2013/ Polres Jakarta Barat/Polsek Cengkareng, tentang dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan. Korban ada dua orang atas nama Dani Aryawan dan Irwanto.

"Modus pelaku adalah membuat PT atau CV fiktif, kemudian menyewa kantor dan gudang di Cengkareng dengan biaya sewa, baru dibayar DP-nya. Selanjutnya, mereka berbagi tugas ada yang menjadi owner, penjaga toko, sekretaris dan lainnya," ungkapnya.

Setelah berpura-pura mendirikan CV bernama Surya Karya Perkasa, para pelaku menghubungi korban untuk membeli atau memesan barang dengan pembayaran menggunakan Bilyet Giro CIMB Niaga.

"Mereka memesan biji plastik, pakaian anak-anak, baju-baju, dan lainnya untuk diperdagangkan kembali. Pemesanan mereka sampai Rp 1 miliar, dibayar pakai bilyet giro yang jatuh tempo selama satu bulan. Namun, ketika bilyet giro itu akan dicairkan korban, ternyata kosong atau saldonya tak cukup. Sementara itu sebelum bilyet giro itu dikliringkan, para pelaku sudah mengosongkan gudang dan pindah," jelasnya.

Rikwanto menyampaikan, selain membekuk empat tersangka, polisi juga menyita barang bukti contoh bahan celana, satu ton (40 karung) biji plastik, beberapa karung pakaian anak-anak, dan surat sewa kantor.

"Para tersangka dijerat Pasal 378 KUHP dan atau Pasal 372 KUHP, dengan ancaman pidana di atas 5 tahun penjara," tandasnya.

Sementara itu, Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Helmy Santika, mengungkapkan berdasarkan keterangan pelaku, mereka sudah tiga kali melakukan penipuan itu sejak tahun 2012. Rata-rata korbannya mengalami kerugian mencapai Rp 1 milar lebih.

"Terakhir, mereka menjalankan aksinya di daerah Cengkareng. Mereka menyewa Ruko dan gudang Rp 40 juta, namun baru bayar DP-nya saja sebesar Rp 5 juta. Kemudian, setelah berpura-pura punya PT atau CV, mereka menghubungi korban memesan sejumlah barang. Gudang itu, dipakai untuk menyimpan dan meyakinkan korban," katanya.

Ia melanjutkan, pelaku membayar korban menggunakn bilyet giro agar memerlukan waktu untuk mencairkannya. Waktu tersebut, digunakan pelaku untuk mengosongkan gudang dan kantor.

"Selanjutnya, pelaku menyewa kantor dan gudang lain, begitu seterusnya. Kami pun menangkap mereka ketika akan menyewa sebuah kantor baru di daerah Cempaka Putih," bilangnya.

Helmy menuturkan, para pelaku berbagi peran dalam menjalankan aksi penipuan itu. Tersangka S alias A, tugasnya mencari kantor untuk disewakan bersama AN (masih buron). Ia juga berperan menjual barang hasil kejahatan. Setiap beraksi, rata-rata ia mendapat uang Rp 10 juta.

"Peran YP sama dengan S, mencari tempat dan menjual barang hasil kejahatan. Ia juga mendapat Rp 10 juta dalam setiap aksinya," paparnya.

Helmy menambahkan, tersangka TDT berperan sebagai penyandang dana. Setiap aksi, ia mendapat bagian paling besar sekitar Rp 40 juta. Sedangkan tersangka ISP, berperan menghubungi para korban dan mengaku sebagai marketing lalu memesan barang dan meminta diantarkan ke alamat yang sudah disewa para pelaku. Ibu tua itu, mendapatkan Rp 10 juta dalam setiap kali transaksi.

"Kami saat ini juga masih mendalami adanya tersangka lain dalam kolompok ini dan mengejar sejumlah DPO (daftar pencarian orang) yang belum tertangkap berinisiap RW, AN dan A," tukasnya.

Penulis: Bayu Marhaenjati