Puluhan rumah warga di Desa Undar-andir, Ciujung, Kabupaten Serang, Banten, terendam banjir hingga mencapai atap rumah,  banjir terjadi akibat luapan Sungai Ciujung dan merendam tiga kabupaten di Provinsi Banten dan  beberapa daerah ketinggian air  mencapai 5 meter (15/1/12).   FOTO ANTARA/Asep Fathulrahman.
Kejadian tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah dalam infrastruktur pertanian  dan antisipasi gagal panen.
 
Banjir akibat luapan Sungai Ciujung, Serang, Banten, yang menyebabkan ribuan sawah terendam menjadi gambaran lemahnya infrastuktur pertanian dan perlunya mendorong  sistem penanganan bencana pertanian yang cepat.
 
Anggota Komisi IV DPR RI Rofi Munawar menilai, kejadian tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah dalam infrastruktur pertanian  dan antisipasi gagal panen. Hal itu menunjukkan mendesaknya revitalisasi  daerah aliran sungai (DAS) dan waduk di Indonesia.

"Perlu juga  mengalokasikan dana kontigensi yang maksimal demi mengantisipasi  kegagalan panen akibat anomali cuaca," kata dia, di Jakarta, hari ini.

Menurut Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS), Citarum-Ciliwung cukup mengkhawatirkan. Total DAS Ciujung 218.078 hektare (ha), tutupan lahan terbuka hijau  hanya sekitar 15% atau sekitar 30 ribu ha. Luasan itu masih sangat jauh  dari presentase minimal 30% atau sekitar 60 ribu ha.
 
Buruknya kondisi DAS Ciujung, lanjuit Rofi, terlihat dari selisih debit  air yang berbeda jauh, saat kemarau mencapai 4 meter kubik per detik  sedangkan saat musim hujan bisa mencapai 362 meter kubik per detik.
 
DAS di seluruh tanah air saat ini hampir 458 .  DAS yang berpotensi  kiritis sebanyak 176 DAS, dalam kondisi kritis 222 DAS, dan  kritis  berat 60 DAS. Catatan ini termasuk semua DAS yang ada di Jawa. Bahkan di  Jakarta, sebagai ibukota negara, 13 DAS sudah rusak parah.
 
Rofi menambahkan, perlu ada terobosan yang betul-betul serius lintas kementerian untuk menanggulangi kerusakan DAS di seluruh Indonesia.  Banjir dan bencana yang terjadi menunjukan bukan semata-mata masalah  cuaca, namun juga antisipasi yang tidak maksimal.
 
Kementerian pertanianan pada 2011 mengalokasikan dana kontingensi pangan   Rp 3 triliun. Dana tersebut berupa paket bantuan kepada petani yang  mengalami gagal panen (puso) dalam bentuk uang tunai sebesar Rp 3,7 juta  per ha, yang meliputi biaya tenaga kerja usaha tani padi sebesar Rp 2,6  juta per ha dan paket bantuan pupuk (urea, NPK, Organik) sebesar Rp 1,1  per ha. Dana kontigensi pangan 2012 diperkirakan mencapai Rp 4 triliun.
 
"Dana ini harus ready di Kementerian Pertanian, karena cuaca buruk tidak pernah kompromi  kapan dan dimana akan terjadi. Dana ini harus mudah di akses dan tidak  rumit, karena masalah pertanian adalah masalah musim tanam. Jika musim  tanam mengikuti siklus anggaran, maka akan sangat sulit memecahkan  masalah-masalah kegagalan panen," papar Rofi.
 
Banjir akibat meluapnya Sungai Ciujung di Kabupaten Serang, Banten,  sejak Jumat (13/1), sekitar 2.300 ha sawah terendam, padahal sebagian  siap panen dan 250 ha tambak ikan bandeng.

Penulis: