Keluarga Irzen Octa
Sepuluh saksi kasus dugaan penganiayaan Irzen Octa mencabut berita acara pemeriksaan (BAP) dalam sidang yang di gelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

"Menurut saya sebagai ahli. Keterangan saksi adalah keterangan yang disampaikan dalam persidangan," kata Guru Besar Hukum Pidana Universitas Islam Indonesia Muhammad Arif Setiawan ketika dihadirkan sebagai ahli dalam sidang yang digelar di PN Jaksel dengan agenda saksi meringankan, Kamis (2/02).

Ketua Majelis Hakim Didiek Setyo Handono kemudian menanggapi. "Bagaimana bila alasan mencabut BAP tidak jelas?"

Arif mengatakan alasan saksi mencabut keterangan BAP itu merupakan hak majelis hakim untuk menilainya. "Tapi menurut saya, keterangan saksi adalah keterangannya di persidangan," jelasnya.

Ditemui usai persidangan, Eri Yudianto selaku jaksa penuntut mengatakan kesepuluh saksi yang mencabut BAP akan dikonfrontir dengan tim penyidik kepolisian untuk memastikan ada tidaknya tekanan selama pemeriksaan. Konfrontir itu akan dilakukan dalam sidang pada 14 Febuari mendatang.

"Sah atau tidaknya alasan mereka, itu kewenangan hakim," kata Eri.

Sementara itu, Luthfie Hakim selaku kuasa hukum kelima terdakwa mengatakan hakim dapat mengabaikan keterangan saksi baik dalam persidangan maupun BAP.

"Kalau hakim tidak yakin dengan alat bukti, abaikan. Kalau tidak yakin semuanya, ya putus bebas," ujar Luthfie.

Irzen merupakan eks Sekjen Partai Pemersatu Bangsa. Dia ditemukan tewas di Kantor Citibank 29 Maret silam karena diduga dianiaya para penagih utang (debt collector) dari Citibank.

Para debt collector yang akan duduk di kursi terdakwa yakni Arief Lukman, Donald Haris, Henry Waslinton, Humizar Silalahi dan Boy Yanto Tambunan.

Mereka dijerat dengan pasal 333 KUHP tentang perampasan kemerdekaan seseorang, pasal 351 ayat 3 tentang penganiayaan yang mengakibatkan kematian dan pasal 335 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan.

Penulis: