Ilustrasi preman
Ilustrasi preman (sumber: Antara)
Polisi tidak mengenal kejahatan premanisme. Yang ada kejahatan perampokan, perampasan.

Pemberantasan preman menjadi topik yang hangat di tengah masyarakat. Polisi diminta menindak tegas setiap oknum yang melakukan tindak kejahatan dan pelanggaran hukum.

Penangkapan pimpinan kelompok pemuda Kei, John Kei mendapat apresiasi besar. Masyarakat menginginkan proses pemberantasan preman terus berlanjut. Masih banyak preman baik individu maupun kelompok lain yang meneror kehidupan masyarakat di Jakarta.

Merespon hal itu, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi, Rikwanto mengatakan, pihaknya tentu bakal menindak tegas setiap pelanggaran hukum yang dilakukan oknum atau kelompok dalam kategori premanisme.

"Kalau ada pelanggaran hukum yang dilakukan oknum atau kelompok itu, ya akan kami tindak tegas. Tanpa kecuali," ujarnya kepada Beritasatu.com di Mapolda Metro Jaya, hari ini.

Dikatakan Rikwanto, selain melakukan tindakan tegas jika ada pelanggaran hukum, polisi juga bisa mencurigai seseorang atau kelompok dengan melakukan pemeriksaan dalam bentuk razia.

"Polisi bisa juga mencurigai dan memeriksa orang atau kelompok yang dinilai meresahkan masyarakat. Memeriksa identitas mereka, menggeledah, dan lainnya. Kalau terbukti ada yang membawa senjata tajam, ya kami periksa," tambahnya.

Lebih lanjut, Rikwanto memaparkan, polisi tak mengenal kejahatan premanisme. Yang ada kejahatan perampokan, tindak kekerasan, perampasan, dan tindakan lainnya yang dilakukan oknum maupun kelompok.

"Artinya, yang ada itu pelaku kejahatan. Polisi menindak karena yang bersangkutan melanggar hukum. Siapapun yang melakukan kejahatan, perampokan, perampasan, dan lainnya, tentu bakal ditindak," terangnya.

Caranya, kata Rikwanto, polisi hadir di tengah masyarakat menjaga keamanan dan ketertiban. Menggelar operasi sandi untuk memberantas tindak kejahatan.

"Kami menyikapi masalah ini (pemberantasan preman) dengan hadir di tengah masyarakat. Mewujudkannya dengan menggelar operasi. Diantaranya, Operasi Kilat Jaya, Operasi Pekat, dan operasi terkait. Selain itu, ada juga Bimas (Bimbingan Masyarakat) yang hadir memberikan arahan bagaimana menangani dan mengatasi masalah itu," tandas Rikwanto.