Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto usai menyampaikn surat pengunduran diri kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di Jakarta, Selasa (27/12/2011). Ia menegaskan bahwa dia mengundurkan diri dari jabatannya bukan terkait pemilukada DKI Jakarta 2012
"Ini ga lebih dari usaha untuk mencari kendaraan untuk Pilgub."

Burhanuddin Muhtadi, pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) mengatakan pelaporan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap dugaan korupsi yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, adalah bentuk kepanikan dari Prijanto.

Prijanto disebut  panik karena saat mengundurkan diri, tidak mendapat dukungan publik.

Menurut Burhanuddin, sikap Prijanto justru menyuratkan harapan untuk menaikkan popularitas.

"Ini ga lebih dari usaha untuk mencari kendaraan untuk Pilgub," kata Burhanuddin, ketika dihubungi, Jumat (24/2).

Soal "laporan" dugaan korupsi Fauzi Bowo, Burhanuddin menyatakan dukungannya untuk membongkar fakta tersebut jikalau memang Prijanto punya bukti.

"Terlepas dari motivasi politik yang ia punya, ya bongkar saja. Walaupun gagal dapet simpati setidaknya bisa menguak aib yang terpendam," imbuh Burhanuddin.

Burhanuddin yakin masyarakat tidaklah bodoh untuk secara otomatis mendukung Prijanto hanya karena ia menuduh Fauzi Bowo melakukan tindak korupsi semasa jabatannya.

Burhanuddin menganggap saat ini adalah saat yang tepat untuk membongkar segala kebusukan yang ada, mumpung Pilkada belum diselenggarakan.

Disebutnya Burhanuddin kemungkinan melonjaknya jumlah calon pemilih yang menjadi ogah untuk menggunakan hak suaranya.

"Kalau masyarakat jadi apatis yang terpilih malah yang tidak diharapkan.Itu tidak boleh terjadi," kata Burhanuddin.

Penulis: