Bemo, Hidup Segan Mati Tak Mau

Bemo, Hidup Segan Mati Tak Mau
Bemo parkir di bawah kolong jalan layang dekat halte busway Karet. (Sumber: Investor Daily/Gora Kunjana) ( Foto: Investor Daily/Gora Kunjana )
L Gora Kunjana / GOR Rabu, 13 Januari 2016 | 00:54 WIB

Jakarta - Selain bajaj, satu lagi transportasi Ibukota Jakarta peninggalan masa lalu yang masih bertahan hingga kini, yaitu becak motor alias bemo. Ibarat satwa langka yang hampir punah, habitat dan populasi kendaraan roda tiga berbentuk imut berpenumpang 7 orang ini kian hari kian menyusut.

Keberadaan angkutan yang sempat menjadi primadona di tahun 80-an ini terdesak bermunculnya aneka moda transportasi lainnya. Mulai dari mikrolet, metromini, bus, taksi hingga angkutan massal modern seperti busway, kereta rel listrik (KRL), juga MRT, LRT, dan monorel kelak.

Bemo pun terpinggirkan dan hanya ditemukan di sejumlah rute pendek. Seperti rute Terminal Manggarai-Jl Proklamasi-RSCM- St Carolus- Stasiun Manggarai balik lagi ke Terminal Manggarai, rute Stasiun Karet-Halte busway Karet, dan rute Benhill-Pejompongan. Bemo juga mangkal di Stasiun Kota, dan bisa didapati di Tanah Abang, dan Grogol.

Asal muasal bemo hadir di Jakarta merupakan inisiatif mendiang Presiden Soekarno pada 1962. Bemo yang di Jepang dikenal sebagai Daihatsu Midget ini didatangkan sebagai sarana transportasi bagi para atlet yang mengikuti ASEAN Games dari tempat penginapan menuju lokasi pertandingan di Istora Senayan.

Sejumlah bemo di Bendungan Hilir. (Foto:Gora Kunjana/Investor Daily)

Kemudian pada 1 Desember 1971 Pemerintah DKI Jakarta memutuskan bemo untuk dijadikan sebagai angkutan umum pengganti angkutan tradisional becak. Karena sangat praktis, lincah, dan mampu menjangkau jalan-jalan yang sempit, di samping dapat melaju jauh lebih cepat daripada becak.

Di negara asalnya, Jepang, bemo tak dimaksudkan untuk mengangkut orang, melainkan sebagai angkutan barang. Akibatnya ketika diberi tempat duduk, ruangan yang tersedia menjadi sangat sempit. Karena itu 6 penumpang di bagian belakang seringkali harus duduk berdesak-desakan dan beradu lutut. Uniknya, menumpang bemo seperti itu justru dapat menimbulkan kenangan manis tersendiri, utamanya bagi mereka yang bertemu jodohnya di bemo.

Sayang, sejak 1996 moda transportasi itu dihapuskan karena dianggap sudah terlalu tua, tidak aman, dan asapnya menyebabkan polusi. Pemerintah DKI Jakarta dan instansi terkait mencabut izin operasional seluruh bemo. Dan, sejak 1996 itulah Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) dan surat uji kelaikan jalan tidak dikeluarkan lagi.

Hebatnya, meski dihapus dan jumlahnya terus menyusut, bemo dalam kondisi bodong tetap beroperasi hingga kini. Namun karena sulitnya mendapatkan suku cadang—menyusul pabriknya di Jepang yang sudah tutup sejak 1972, kondisi armada tersisa kian hari kian menyedihkan.

Sosok fisik bemo tampak nelangsa. Bodi peyot sana-sini, cat kusam, dan berkarat. Belum lagi lampu bolong, ban gundul, shockbreaker mati. Sampai yang sangat miris, tangki bensin bocor dan diganti dengan jerigen plastik yang cuma ditaruh di tengah antara supir dan penumpang terus ditutup handuk basah.

Ibarat hidup segan mati tak mau, kini bemo hanya sekadar bertahan. Entah sampai kapan.

Bemo melintas di Terminal Manggarai. (Foto:Gora Kunjana/Investor Daily)

CLOSE