Taruna dan taruni STIP mengangkat peti jenazah dari Amirulloh Adityas Putra (18) yang tewas setelah dianiaya rekan-rekan seniornya di kediaman rumah duka Warakas, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, 11 Januari 2017.

Keluarga Korban Tidak Kaget Budaya Kekerasan di STIP

Taruna dan taruni STIP mengangkat peti jenazah dari Amirulloh Adityas Putra (18) yang tewas setelah dianiaya rekan-rekan seniornya di kediaman rumah duka Warakas, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, 11 Januari 2017. (BeritaSatu Photo/Carlos Roy Fajarta)

Jakarta- Suasana duka terpancar dari keluarga Amirulloh Adityas Putra (18), pelajar taruna tingkat pertama yang meninggal setelah dianiaya para seniornya pada Rabu (11/1).

Tangis orangtua, saudara hingga teman-teman korban pecah ketika jenazah datang di rumah duka Jalan Warakas III, Gang 16, RT07/RW14, Kelurahan Warakas, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Kini sudah tidak ada sosok pemuda ceria, peduli keluarga, dan tekun beribadah. Setelah disalatkan di masjid yang bersebelahan dengan rumah duka, peti jenazah dibawa keluarga dan alumni STIP untuk dimakamkan ke TPU Budi Dharma Cilincing sore itu.

Amirulloh merupakan anak dari Ruspiadi asal Mojokerto Jawa Tengah dan Siti Aminah asli Betawi. Korban merupakan anak ke-3 dari tiga bersaudara. Dua orang kakaknya yakni Laksana Erwin Adityas Putra (21), Amarullah Adityas Putra (18).

Namun Amarulloh Adityas Putra (18) yang merupakan saudara kembar korban seperti belum bisa menerima kepergian Amirulloh. "Saya sudah tidak kaget kalau di STIP itu pendidikannya dipenuhi pelatihan fisik yang tak jarang berujung pemukulan dan penganiayaan berat, padahal Amir baru minggu kemarin bertemu dengan saya dan keluarga," ujar Amarulloh, Rabu (11/1) di rumah duka kepada Suara Pembaruan.

Dia tidak terkejut budaya kekerasan di STIP dengan kedok latihan fisik untuk menempa mental pelaut yang handal dan berkualitas.

Bila Amir berhasil diterima di STIP, Amar justru melanjutkan pendidikan di Sekolah Kelautan yang berada satu komplek dengan STIAMI Pulomas, Jakarta Timur. Dia gagal masuk STIP dalam tes kesehatan karena salah satu giginya retak.

Ia mengungkakan korban bersikap aneh dan jauh pendiam selama dua bulan terakhir. "Kalau saya tanya tidak pernah terus terang, pasti ada yang ditutup-tutupi. Cuman saat pulang terakhir kemarin dia akhirnya bercerita kalau dia sedang kedapatan tugas serah terima alat drum band," katanya.

Dia mengatakan, Amir dan teman-temannya tersangkut kasus buang sampah sembarangan di lingkungan dormitory sehingga harus menerima hukuman dari para senior. "Cuman saya gak nyangka pemukulan pada kemarin malam berujung kematian saudara saya," ungkap Amarulloh.



Suara Pembaruan

Carlos Roy Fajarta/WBP

Suara Pembaruan