Sejumlah kendaraan terjebak macet akibat banjir di kawasan Kilometer 13 Jalan Daan Mogot, Jakarta sejumlah titik di kawasan Jalan Daan Mogot terendam banjir akibat meluapnya Saluran Mookervart serta hujan deras yang mengguyur sejak Selasa sore. FOTO : Ismar Patrizki/ANTARA
Banjir di Jakarta disebabkan daerah aliran sungai (DAS) yang tidak memiliki luas layak. Sehingga mengakibatkan meluapnya Kali Pesanggrahan, Kali Krukut, Kali Angke dan sebagian Kali Ciliwung meluap.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) buka suara soal penyebab banjir yang terjadi sejak Senin (2/4) hingga Rabu (4/4) di Jakarta.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, banjir di Jakarta disebabkan daerah aliran sungai (DAS) yang tidak memiliki luas layak. Sehingga mengakibatkan meluapnya Kali Pesanggrahan, Kali Krukut, Kali Angke dan sebagian Kali Ciliwung meluap.

DAS Pesanggrahan memiliki luas 177 km2. Hulunya berada di perumahan Budi Agung, Tanah Sereang Kota Bogor, dan hilir bertemu dengan Cengkareng Drain. Hampir 70 persen kawasan terbangun dari luas DAS-nya. Permukiman padat sekitar 45 persen dari luas DAS tersebar di bagian hilir, mulai dari Kebayoran Lama, Kedoya dan Kebon Jeruk Jakarta Barat. Ditambahk lagi dengan kawasan hijau yang hanya 7 persen dan tidak merata.

Sedangkan, DAS Angke hanya memiliki 239 km2 dengan hulu di perumahan Yasmin, Bogor, kemudian melewati Parung, Bojonggede, Ciputat, Serpong dan bermuara di Mookevart. Hampir 60 persen dari luas DAS adalah permukiman padat. Sisanya tegalan, lahan kosong, semak. Tidak ada hutan.
 
Sutopo juga menepis jika banjir disebabkan curah hujan tinggi. Dikatakannya, curah hujan pada Selasa (3/4) lalu, hanya sekitar 142 mm/haru. Jumlah tersebut jauh lebih kecil ketimbang banjir 1996, yang memiliki curah hujan 300 mm/hari. Apalagi, pada banjir 2007 dengan curah hujan 340 mm/hari.

Dengan kondisi tutupan lahan yang demikian, maka hujan yang turun hampir 70 persen langsung menjadi limpasan permukaan. Buruknya drainase dan sungai juga semakin memperparah arus air.

"Kapasitas debit sungai saat ini hanya mampu menampung 20 persen dari debit banjir yang ada. Adanya penyempitan dan pendangkalan sungai menyebabkan sekitar 80 persen debit sungai menjadi banjir yang menggenangi permukiman. Dengan kondisi tersebut suatu hal yang wajar jika terjadi banjir. Justru akan aneh jika tidak banjir karena dari sistem hidrologi memang sudah tidak seimbang," ujarnya.

Penulis: