Merugi, Alasan Bank DKI Tutup 5 Cabang di Luar Jawa

Sekda DKI, Saefullah, menyaksikan penandatanganan PKS tentang Optimalisasi Pendapatan Daerah dan Pendapatan Pusat melalui pemeriksaan STNK, TNKB dan pengesahannya antara BPRD DKI, Ditlantas Polda Metro Jaya, Bank DKI, dan PT Jasa Raharja di Balai Kota DKI, Jakarta, Jumat, 11 Agustus 2017. (Beritasatu Photo/Lenny Tristia Tambun)

Oleh: Lenny Tristia Tambun / FER | Jumat, 11 Agustus 2017 | 17:16 WIB

Jakarta – Direktur Bisnis Bank DKI, Antonius Widodo Mulyono, mengatakan penutupan lima cabang Bank DKI di luar Pulau Jawa dikarenakan pihaknya ingin mengembangkan kantor cabang di pasar-pasar tradisional dan rumah susun sederhana Sewa (Rusunawa) yang ada diseluruh wilayah DKI Jakarta.

"Jadi ada lima kantor Bank DKI di Luar Jawa yang ditutup. Kenapa? Kita memang sesuai visi dan misi, ingin kembali ke Jakarta. Jadi visi dan misi Bank DKI itu kembali ke khittahnya, kembali ke DKI. Makanya kita akan buka kantor di pasar-pasar dan rusunawa," kata Antonius di Balai Kota DKI, Jakarta, Jumat (11/8).

Selain itu, lima kantor cabang Bank DKI yang ditutup yakni Kantor Cabang Bank DKI di Pekanbaru, Palembang, Medan, Makassar, dan Balikpapan, terus mengalami kerugian. Sehingga daripada mempengaruhi kemampuan finansial Bank DKI, maka diputuskan untuk ditutup saja.

"Sudah pasti juga karena bisnis. Merugi ya. Jadi sesuai hitung-hitungan kami, sebaiknya ini ditutup," ujarnya.

Tahun ini, pihaknya ingin fokus membangun kantor cabang di DKI Jakarta. Rencananya akan menambah sekitar 12 kantor cabang di 12 pasar tradisional. Sementara tahun kemarin, mereka telah menambah 11 kantor cabang di pasar-pasar tradisional sehingga jumlahnya menjadi 24 kantor cabang.

Dengan penambahan 12 kantor cabang di tahun ini, maka nantinya akan ada 36 kantor cabang Bank DKI yang ada di pasar tradisional.

"Bank DKI harus fokus di DKI. Kami itu kan bank regional secara desain makronya. Jadi untuk penutupan dan pembukaan semua harus disetujui oleh OJK dan disetujui oleh RUPS, lalu dituangkan dalam rencana bisnis bank (RBB)," jelasnya.

Hingga saat ini, kata Antonius, nasabah Bank DKI sudah mencapai 2,4 juta orang. Untuk menambah jumlah nasabah, Bank DKI telah meluncurkan program hajatan. Program ini melibatkan seluruh karyawan Bank DKI untuk mengajak penduduk atau masyarakat membuka rekening.

"Ini sudah ada lebih dari 4.000 telah membuka rekening dengan dana yang masuk sekitar Rp 21 miliar," paparnya.

Untuk memudahkan nasabah mengambil uang, Bank DKI telah menyiapkan sebanyak 744 mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Diantaranya sebanyak 267 ATM ada di 267 kelurahan dan 44 ATM di 44 kantor kecamatan.

"Keberadaan ATM di kantor kelurahan dan kecamatan ini untuk memudahkan warga melakukan pembayaran pajak dan retribusi," kata Antonius.

 




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT