Tangerang Punya Potensi Jadi Kota Kelas Dunia

Jalan Daan Mogot Km 23 di Kota Tangerang akan ditutup sementara dalam rangka pengerjaan jalur rel kereta Bandara Soekarno-Hatta pada Minggu (27/8). (beritasatu tv)

Oleh: Bernadus Wijayaka / BW | Kamis, 14 September 2017 | 13:42 WIB

Jakarta- Kota dan Kabupaten Tangerang berpotensi menjadi mitra strategis Jakarta apabila dapat mengisi kekosongan yang dialami Ibu Kota. Hal itu dijelaskan pengamat tata kota, Yayat Supriatna. Tangerang mempunyai potensi hebat jika transportasi dikembangkan. Tangerang akan menjadi kota kelas dunia.

Menurutnya, ketimpangan pendapatan daerah yang terjadi saat ini dapat diminimalisasi dengan menggali potensi-potensi daerah yang dapat dikembangkan dengan tepat sehingga dapat memposisikan Tangerang sebagai pengisi kekosongan dari Jakarta.

“Sebetulnya, Tangerang itu kota metropolitan yang berpotensi menjadi mitra Jakarta, tetapi Tangerang tidak boleh di bawah bayang-bayang Jakarta dan harus bisa menjadi mitra kolaborasi dalam kerja sama di banyak hal,” tegasnya.

Dia menambahkan, sistem transportasi kereta api bandara yang saat ini sedang dikembangkan dapat menjadi pintu masuk Tangerang untuk berkembang menjadi kota kelas dunia. Transportasi dan konektivitas yang baik tersebut dapat membuka potensi bagi Tangerang untuk memaksimalkan pertumbuhan potensi-potensi daerahnya di berbagai sektor.

“Tangerang itu punya potensi, ketika transportasi dikembangkan. Artinya dengan adanya KA Bandara, Tangerang punya kemampuan untuk mengelola stasiun-stasiun yang dilewatinya. Bisa saja nanti stasiun Tangerang itu juga ada transit oriented development (TOD) bukan sekadar sebagai lintasan dari Jakarta saja,” Yayat, Kamis (14/9).

Secara jangka panjang, Tangerang dapat berkembang menjadi kota terintegrasi pendamping Ibu Kota yang mampu menjawab apa yang yang dibutuhkan Jakarta sekaligus menyelesaikan kesulitan-kesulitan yang dialami daerah tetangga. Selain itu, Tangerang dapat menjadi kota mandiri kelas dunia sekaligus gerbang transit yang akan memberikan kemudahan akses ke kota-kota maupun pusat bisnis di daerah sekitarnya.

Transportasi dan konektivitas akan menarik bisnis, industri, dan aktivitas sosial serta ekonomi untuk tumbuh semakin pesat. Tangerang dapat menyambut potensi ini dengan menjalin kerja sama ekonomi atau sejumlah sinergi terkait pengembangan permukiman, perkantoran, hingga pusat komersial, dan industri.

Sinergi ini dapat juga dengan mengajak mitra swasta sehingga menyokong pembiayaan di luar anggaran daerah.

Jantung Ekonomi
Dia yakin, dengan adanya pembangunan Kota Tangerang yang terintegrasi mampu mengurangi kepadatan di Ibu Kota karena waktu tempuh ke pusat jantung ekonomi Indonesia dapat dilakukan dalam 30 menit. Pemerintah daerah pun harus mampu melihat peluang ini dengan menjadi kepanjangan tangan dari investor ke PT Kereta Api Indonesia dan lainnya.

Tangerang juga dapat dikembangkan sebagai high tech industry dengan berbagai industri kreatif di dalamnya, bukan industri berat atau polutan. Pengembangan bisa juga berupa pergudangan yang dapat dimanfaatkan dengan baik sehingga pelaku bisnis tidak lagi pusing mencari toko di tengah maraknya industri logistik Indonesia. “Ketika Tangerang bisa menyediakan tempat usaha bagi industri ekonomi kreatif dengan pusat perdagangan itu sangat luar biasa," tegas Yayat.

Direktur Edukasi Ekonomi Kreatif Bekraf Poppy Savitri mengungkapkan, pihaknya tengah melakukan edukasi industri kreatif di daerah-daerah dengan mengirimkan ahli-ahli di bidangnya untuk menggali potensi yang dimiliki daerah-daerah di seluruh Indonesia. Dia mengungkapkan untuk mengembangkan suatu daerah perlu dilakukan riset mendalam guna melihat lebih jauh potensi apa yang dimiliki daerah tersebut.

“Misalnya daerah itu unggul di batik sehingga kirim desainer-desainer, lalu daerah lain unggul di batubara, tetapi yang mengelola yang bukan masyarakat sehingga mereka tetap tidak maju. Untuk itu perlu dicari potensi lain yang ada mulai dari sumber daya manusia hingga alamnya,” terangnya.

Dia juga menambahkan potensi yang ada itu dapat membangun ekosistem berkesinambungan sehingga ada benang merah yang menyatukan semuanya dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

“Jadi mereka tidak perlu melakukannya ke Jakarta, tetapi bisa dilakukan di daerahnya sendiri sehingga sistem yang dibangun bisa berjalan seterusnya dan masyarakat harus merasa memiliki dan terus berkesinambungan menjaga ekosistem yang diciptakannya tersebut,” pungkas Poppy.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT