Mengajarkan Anak Dunia Insinyur di Engineering for Kids Serpong

Engineering for Kids Gading Serpong (Ist)

Oleh: Hendro D Situmorang / FMB | Sabtu, 7 Oktober 2017 | 21:40 WIB

Tangerang - Anak-anak zaman kini sudah saatnya mengasah otak dengan praktik langsung, bukan sekedar teori belaka. Maka itu Engineering For Kids cabang keenam hadir di Gading Serpong, Tangerang. Wahana edukasi ini, mengajak anak-anak Indonesia berumur 4-14 tahun untuk membangun karya melalui pengajaran ilmu terapan engineering.

Director Engineering For Kids Gading Serpong, Deasy Christian mengatakan anak-anak akan diajarkan berbasis praktik atau eksperimen langsung ketimbang mempelajari teori saja. Engineering for Kids adalah sebuah merk pendidikan terdaftar yang berasal dari Amerika Serikat yang memiliki 250 cabang di 32 negara, dan di Indonesia lisensinya dikelola oleh PT Pusat Kreasi Anak Bangsa.

“Jadi memilih aktivitas yang tepat bagi anak itu sangatlah penting. Engineering For Kids hadir untuk mengisi hari anak dengan bermain penuh imajinasi dan mendidik,” kata Deasy pada pembukaan di SDC Gading Serpong, Tangerang, Sabtu (7/10).

Ia mencontohkan seperti meluncurkan roket yang dapat terbang hingga 45 meter ke langit, mencampur kimia untuk membuat ledakan warna-warni, atau membuat turbin pembangkit tenaga listrik.

Engineering For Kids percaya setiap anak memiliki keahlian dan potensi yang dapat digali sejak usia dini. Sebuah misi bagi Engineering for Kids untuk memupuk bibit-bibit cerdas bangsa agar kelak menjadi insinyur yang dapat mengharumkan nama bangsa. Lagipula, anak-anak adalah masa depan.

Mengacu pada sebuah hasil penelitian di 10 tahun terakhir ini jumlah lapangan kerja yang terbuka bagi orang-orang yang memiliki kemampuan STEM (Science, Technology, Engineering dan Mathematics) adalah tiga kali lipat lebih baik ketimbang orang yang tidak memiliki kemampuan tersebut.

Banyak orang mengira menjadi seorang insinyur itu terbatas pada membangun sebuah gedung atau montir mobil. Padahal engineering itu sebenarnya adalah segala sesuatu yang ada di sekitar.

“Apa yang kita sentuh, gunakan dan konsumsi. Contohnya meja dan kursi adalah penerapan dari civil engineering, makanan yang kita makan ada food engineering-nya, penerangan di rumah kita adalah bagian dari electrical engineering dan sebagainya,” tambah Shintia, Managing Director Engineering for Kids Indonesia.

Lanjutnya, “Anak-anak pada dasarnya memiliki rasa penasaran yang tinggi dan merupakan sebuah sifat yang layaknya dibutuhkan untuk menjadi seorang insinyur. Diharapkan dari program ini mampu memberikan kacamata pandang yang berbeda bagi anak-anak agar dapat dunia sebagai seorang penemu atau inventor’'.

Dengan menyalurkan rasa penasaran mereka ke arah yang positif dan produktif yaitu dengan memberikan mereka aktivitas yang membangun kemampuan di Engineering for Kids.

“Kita mulai pupuk sejak usia dini dari 4 tahun. Orang ua suka terkagum anak kecil ternyata kok sudah mampu melakukan hal seperti itu. Di mana lagi anak bisa belajar science, technology, engineering dan matematika dengan fun seperti ini kalau bukan di Engineering for Kids,” jelas Shintia.

Anak-anak belajar melalui sebuah dunia eksperimen di berbagai bidang keinsinyuran layaknya orang dewasa beberapa di antaranya adalah: Aerospace, Chemical, Mechanical, Electrical, Environmental, Optical, Hardware, Software dan lain-lainnya.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT