Sehari Usai Pelantikan, Balai Kota DKI Sepi dari Warga

Suasana Balai Kota DKI Jakarta tampak sepi dari warga sehari usai pelantikan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta,Selasa 17 Oktober 2017. (Beritasatu.com/Lenny Tristia Tambun)

Oleh: Lenny Tristia Tambun / PCN | Selasa, 17 Oktober 2017 | 09:25 WIB

Jakarta - Seusai kemeriahan selamatan atas pelantikan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI periode 2017-2022, Balai Kota yang biasanya didatangi puluhan warga sewaktu era Djarot Saiful Hidayat dan ratusan warga pada era Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), kini tampak sepi.

Meski meja pengaduan warga tetap ada dan buka melayani warga sejak pukul 07.30 WIB. Hanya terlihat para petugas pelayanan masyarakat yang berpakaian pakaian dinas harian coklat khas PNS DKI yang duduk di kursi belakang menanti pengaduan. Setidaknya ada 10 PNS yang bertugas melayani warga yang biasa datang mengadu atau meminta layanan kepada Pemprov DKI.

Berdasarkan pantauan Beritasatu.com, di antara kerumunan wartawan, ada satu warga yang sedang duduk di pendopo Balai Kota.

Mai (54), menyatakan kedatangannya ke Balai Kota untuk memberikan ucapan selamat kepada Anies dan Sandiaga yang sudah sah memimpin Jakarta.

“Saya ingin mengucapkan selamat. Kan gubernur yang dulu begini (sambil mengacungkan jari jempolnya ke atas). Semoga yang baru lebih baik lagi,” kata Mai.

Sepinya Balai Kota dari kedatangan warga sangat kontras bila dibandingkan dengan dua gubernur sebelumnya. Setiap pagi, mulai dari jam 06.00 WIB, Balai Kota sudah dipenuhi warga yang antri untuk melayangkan pengaduan atau foto bersama dengan gubernur mereka.

Ratusan warga selalu memenuhi Balai Kota pada saat zaman Ahok. Memang Ahoklah yang membuka pintu pengaduan warga agar bisa langsung ditindaklanjuti olehnya. Bagi Ahok, Balai Kota adalah milik rakyat dan kantornya rakyat. Ia pun tak segan-segan berbicara langsung dengan warga yang menyampaikan aduan atau aspirasinya atau melayani mereka untuk foto bersama.

Jumlah warga yang datang ke Balai Kota sempat menurun saat kepemimpinan Kota Jakarta diambil alih Djarot Saiful Hidayat sejak Ahok diputuskan bersalah dalam kasus penistaan agama dan langsung ditahan di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Karena warga tak lagi bisa mengadu langsung ke Gubernur DKI. Sejak era Djarot, pengaduan warga dibagi enam bagian pengaduan. Yang masing-masing enam bagian pengaduan tersebut dilayani oleh PNS DKI terkait. Djarot hanya sesekali saja bertemu dengan warga yang mengadu.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT