Penggunaan Kata Pribumi di Pidato Anies Rentan Timbulkan Konflik

Gubernur DKI Jakarta Terpilih Anies Baswedan (kiri) dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih Sandiaga Uno. (Antara/Rivan Awal Lingga)

Oleh: Bhakti Hariani / PCN | Selasa, 17 Oktober 2017 | 09:40 WIB

Jakarta- Pidato perdana Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan seusai pelantikan, Senin (16/10) sore yang menyebut kata pribumi dinilai Peneliti Wahid Institute Ahmad Suaedi rentan menimbulkan sensitivitas.

Ahmad mengatakan, penggunaan kata pribumi dalam pidato Anies merupakan hal yang tidak perlu karena hanya akan memunculkan sensitivitas. Tanpa menggunakan kata pribumi pun tidak akan mengubah isi pidato Anies. Penggunaan kata pribumi ini juga rentan menimbulkan konflik dan berbahaya bagi masyarakat luas dalam menyikapinya.

"Memang hanya digunakan sekali saja dan saya kira Anies tidak menyudutkan tapi memang salah menggunakan kata pribumi itu. Jadinya menimbulkan sensitivitas. Tanpa kata itu pun semangat kemandirian dan keadilan sosialnya tetap dapat dipahami," ujar Ahmad kepada SP, Selasa (17/10).

Menurut pria yang juga anggota Ombudsman ini, keseluruhan isi pidato Anies hanya sebatas slogan semata tanpa ada kejelasan program apa yang akan segera dilaksanakan setelah dia menjabat. "Ya hanya ngomong sana sini tapi apa yang direncanakan tidak jelas sama sekali. Hanya slogan-slogan saja," kata Ahmad Suaedi.

Jakarta, diakuinay, memang masih banyak terdapat ketidakadilan sosial dan belum merata. Namun, hal itu tidak hanya sebatas pada pribumi atau non pribumi semata. Anies justru harus bisa membereskan masalah tersebut tanpa membelah warga menjadi pribumi atau non pribumi.

"Saran saya ke depannya Anies harus bicara dengan hal konkret dan jangan membawa bawa lagi pribumi dan non pribumi. Jangan banyak slogan tapi laksanakan program yang nyata," pungkas Ahmad Suaedi.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT