Anies Klarifikasi Kata "Pribumi"

Gubernur dan wakil gubernur terpilih DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno menuju Istana Negara, Jakarta, Senin 16 Oktiber 2017. (BeritaSatu Photo/Joanito De Saojoao)

Oleh: Deti Mega Purnamasari / AB | Selasa, 17 Oktober 2017 | 11:13 WIB

Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan mengklarifikasi penggunaan kata "pribumi" dalam pidato politiknya di hadapan warga saat menyampaikan pidato kemenangan seusai dilantik Presiden Joko Widodo, Senin (16/10). Anies menyatakan dalam pidatonya kata "pribumi" digunakan untuk menjelaskan era kolonial Belanda.

"Istilah itu digunakan dalam konteks saat era penjajahan, karena saya menulisnya pada era penjajahan dulu," ujar Anies di Balai Kota, Selasa (17/10).

Menurut Anies, ia menulis hal tersebut dalam pidatonya karena Jakarta merupakan kota yang merasakan penjajahan dari Belanda di masa itu yang paling dekat. Hal tersebut berbeda dengan daerah-daerah lainnya di pelosok Tanah Air yang tidak merasakannya langsung.

"Yang lihat Belanda jarak dekat siapa? Jakarta. Coba kita di pelosok-pelosok, tahu ada Belanda tapi apakah lihat di depan mata? Tidak. Yang lihat depan mata itu Jakarta," katanya.

Namun saat disinggung mengenai Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 26 Tahun 1998 tentang Menghentikan Penggunaan Istilah Pribumi dan Non-Pribumi dalam Semua Perumusan dan Penyelenggaraan Kebijakan, Perencanaan Program, ataupun Pelaksanaan Kegiatan Penyelenggaraan Pemerintahan, Anies enggan berkomentar.

"Cukup, cukup!" elaknya.

Dalam pidato kemenangan Anies pada Senin (16/10) malam, Anies menyinggung soal pribumi di Jakarta saat era kolonialisme yang ditindas dan dikalahkan.

"Jakarta ini satu dari sedikit kota di Indonesia yang merasakan kolonialisme dari dekat, penjajahan di depan mata, selama ratusan tahun. Di tempat lain mungkin penjajahan terasa jauh, tapi di Jakarta bagi orang Jakarta, yang namanya kolonialisme itu di depan mata. Dirasakan sehari hari. Karena itu bila kita merdeka, maka janji-janji itu harus terlunaskan bagi warga Jakarta. Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai Jakarta ini seperti yang dituliskan pepatah Madura. Itik telor, ayam singerimi. Itik yang bertelor, ayam yang mengerami," ujar Anies dalam pidatonya. 




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT