Anies Tak Mau Komentar Soal Dirinya Dilaporkan ke Bareskrim

Anies Baswedan. (Antara)

Oleh: Lenny Tristia Tambun / PCN | Rabu, 18 Oktober 2017 | 10:19 WIB

Jakarta – Pernyataan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang menggunakan kata pribumi pada saat menyampaikan pidato politik pertamanya di Pesta Rakyat di Balai Kota DKI, Senin (16/10) menuai banyak protes dari berbagai pihak. Tidak hanya melayangkan surat terbuka kepada Anies, bahkan ada yang melaporkan Anies ke Bareskrim Polri.

Seperti Inisiator Gerakan Pancasila dan Banteng Muda Indonesia yang telah secara resmi melaporkan Anies ke Bareskrim Polri kemarin. Kedua elemen masyarakat ini mengatakan pernyataan Anies yang menggunakan kata pribumi telah melanggar Undang-Undang No 40 Tahun 2008 tentang diskriminasi ras dan etnis.

Laporan resmi yang dilayangkan Inisiator Gerakan Pancasila, kini telah tertuang dengan nomor laporan LP/1072/X/2017 Bareskrim Polri. Anies dilaporkan dengan dugaan melanggar Pasal 4 huruf B ke 1 dan 2 dan pasal 16 UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi, ras dan etnis.

Ketika ditanya mengenai pelaporan dirinya ke Bareskrim terkait kata pribumi, Anies hanya diam seribu bahasa. Dia tidak mau berkomentar apa pun mengenai hal itu. Konfirmasi dilakukan awak media saat Anies dan pasangannya, Wakil Gubernur DKI, Sandiaga Uno mengunjungi SD 07 Pagi Cawang, Jakarta Timur.

"No comment saya,” kata Anies seusai kunjungan ke SD 07 Cawang, Jakarta Timur, Rabu (18/10).

Namun, kemarin, Anies sudah menjelaskan maksud ia mengucapkan kata tersebut. Diterangkannya, istilah itu digunakan dalam konteks pada era penjajahan. Karena ia menuliskannya dalam teks pidatonya pada era penjajahan dulu.

“Karena Jakarta adalah kota yang paling rasakan. Kota-kota lain enggak melihat Belanda dari dekat. Yang lihat Belanda dekat kan siapa? Jakarta. Coba di pelosok Indonesia, kan tahu, tapi enggak lihat di depan mata,” kata Anies.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini menegaskan kata itu digunakan untuk menjelaskan era kolonial Belanda.

Memang dalam teks pidato yang diterima wartawan, tertulis sebagai berikut:

"Jakarta juga memiliki makna pentingnya dalam kehidupan berbangsa. Di kota ini, tekad satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa persatuan ditegakkan oleh para pemuda. Di kota ini pula bendera pusaka dikibartinggikan, tekad menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat diproklamirkan ke seluruh dunia. Jakarta adalah satu dari sedikit tempat di Indonesia yang merasakan hadirnya penjajah dalam kehidupan sehari-hari selama berabad-abad lamanya. Rakyat pribumi ditindas dan dikalahkan oleh kolonialisme. Kini telah merdeka, saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai terjadi di Jakarta ini apa yang dituliskan dalam pepatah Madura, "Itik se atellor, ayam se ngeremme." Itik yang bertelur, ayam yang mengerami. Seseorang yang bekerja keras, hasilnya dinikmati orang lain."

Sementara, dalam rekaman pidato yang direkam wartawan, Anies tidak hanya berdasarkan pada teks pidato yang tertulis. Tetapi ia berimprovisasi secara pribadi. Pada bagian kata pribumi, Anies mengucapkan seperti ini:

"Dan Jakarta ini satu dari sedikit kota, satu sedikit kota yang merasakan kolonialisme dari dekat. Penjajahan di depan mata itu di Jakarta. Selama ratusan tahun betul enggak? Di tempat lain mungkin penjajahan terasa jauh, tetapi di Jakarta, bagi orang Jakarta yang namanya kolonialisme itu di depan mata, dirasakan sehari. Karena itu, bila kita merdeka maka janji-janji itu harus terlunaskan bagi warga Jakarta. Dulu, kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan, kini kita telah merdeka, kini saatnya kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai Jakarta ini seperti dituliskan dalam pepatah Madura, "Itik se atellor, ayam se ngeremme." Itik yang bertelur, ayam yang mengerami. Seseorang yang bekerja keras, hasilnya dinikmati orang lain."

 




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT