Ayo Wisata ke Tempat Pengolahan Sampah Bantargebang

Sebanyak 45 murid SMA di Jakarta bersama para guru mengunjungi TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Selasa (14/11/2017). (SP/Mikael Niman)

Oleh: Mikael Niman / BW | Selasa, 14 November 2017 | 12:55 WIB


Bekasi- Sebanyak 45 murid SMA di Jakarta melakukan wisata sekolah (school trip) ke tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Selasa (14/11) pagi. Mereka ingin melihat secara langsung pengelolaan sampah, terutama plastik kemasan serta meninjau langsung fasilitas rumah pemulihan material (RPM) yang ada di TPST Bantargebang.

Rupanya, anak-anak sekolah ini diajarkan bagaimana menumbuhkan gaya hidup untuk mendaur ulang sampah plastik. ‎Setiap hari, warga DKI Jakarta membuang sampah ke TPST Bantargebang mencapai 7.000 ton. Ironisnya, persentase daur ulang sampah di Indonesia masih rendah. Untuk itu, Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) bersama dengan Ancora Foundation menginisiasi proyek bertajuk #PlasticReborn. Sebuah program yang difokuskan untuk membangun pemahaman dan perilaku kelola sampah sebagai gaya hidup pada generasi muda.

"Salah satu permasalahan sampah berpulang pada perilaku dan kami sadar untuk mengubahnya dibutuhkan sebuah pendekatan yang holistik. Edukasi sangat penting, tetapi hal itu saja tidak cukup. Kita bisa melihat bermunculan komunitas-komunitas muda yang semakin peduli dengan permasalahan sampah. Ini artinya pemahaman terhadap isu ini semakin besar. Karenanya dibutuhkan untuk menghadirkan inspirasi positif sambil terus memberdayakan mereka sebagai perubahan positif," ujar Chief Executive CCFI, Titie Sadarini.

Dia menambahkan, kegiatan #PlasticReborn didesain dengan mengintegrasikan tiga hal, di antaranya education, empower, dan inspire.

‎"Education difokuskan untuk memprovokasi pemikiran dan aksi perubahan yang positif. Melalui pilar ini kegiatan dititikberatkan pada proses pemilahan sampah botol kemasan plastik melalui pendistribusian collection drop box di 60 SMA dan universitas. Para siswa ini diajak langsung melihat kondisi TPST Bantargebang," imbuhnya.

Empower sambung dia, difokuskan untuk memfasilitasi terciptanya kolaborasi strategis dalam pemanfaatan sampah kemasan plastik menjadi barang bermanfaat yang bernilai ekonomi.

"Lalu, inspire di‎fokuskan untuk membentuk cara pandang baru terhadap kemasan plastik bukan sebagai sampah tetapi material yang bernilai jika dikelola dengan benar," imbuhnya.

Kepala ‎Unit Pengolahan Sampah Terpadu (UPST) Bantargebang, Asep Kus‎wanto, mengatakan pengelolaan sampah di TPST Bantargebang saat ini jauh lebih baik dari sebelum diswakelola Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Bahkan, TPST ini telah menjadi tempat belajar tentang pengelolaan sampah yang baik dan benar.

"Sejak diswakelola Dinas Lingkungan Hidup DKI, tempat ini banyak mengalami kemajuan dalam pengelolaan sampah," ujarnya.

Dia menjelaskan, banyak pihak baik dari dalam dan luar negeri yang ingin belajar pengelolaan sampah di TPST Bantargebang.

Salah satu murid SMAN 105 Jakarta Timur, Rizky Rahmatullah, mengaku kaget melihat tumpukan sebanyak itu di TPST Bantargebang. "Saya tidak membayangkan tumpukan sampah sebanyak itu. Naik ke atas gunungan sampah," kata Rizky.

Siswa Kelas X IPS ini, mengaku tertarik mengikuti school trip untuk menambah wawasannya terkait pengolahan sampah milik warga DKI Jakarta.

"Saya kan jurusan IPS, ingin tahu tentang daur ulang sampah di tempat ini. Selama ini, saya hanya daur ulang sampah botol kemasan air minum dijadikan tempat pulpen," katanya.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT