Jakarta Intoleran, Sandiaga: Banyak Warga yang Move On dari Pilkada

Sandiaga Uno. (B1/Lenny Tristia Tambun)

Oleh: Lenny Tristia Tambun / AB | Sabtu, 18 November 2017 | 13:37 WIB

Jakarta – Hasil kajian yang menunjukkan Jakarta menjadi kota paling intoleran dari 94 kota di Indonesia, menurut Wakil Gubernur DKI, Sandiaga Uno, menjadi pemicu bagi dirinya dan Gubernur DKI, Anies Baswedan untuk mempererat kembali toleransi dan kerukunan antarwarga Jakarta.

“Kita harus sekuat tenaga untuk memastikan bahwa sikap toleran warga dan tentunya sikap menjaga Bhinneka Tunggal Ika harus dipererat lagi dan perkuat lagi,” kata Sandiaga seusai menghadiri Apel Siaga Bencana di Lapangan Sisi Selatan Monas, Jakarta, Sabtu (18/11).

Menurutnya, hasil kajian yang dilakukan Setara Institute bersama Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) akan menjadi bahan masukan bagi Pemprov DKI untuk menentukan langkah konkret meningkatkan toleransi di tengah-tengah warga Jakarta. Namun, data tersebut tidak sesuai dengan data yang ia miliki, yaitu sudah banyak warga Jakarta yang move on dari Pilkada DKI yang sempat memanas dan membuat warga Jakarta terbelah karena isu agama.

“Tentunya data tersebut bagus. Dan alhamdulillah, data yang saya miliki malah warga sudah banyak sekali move on dari pilkada dan sikap toleransiya lebih baik,” ujarnya.

Karena itu, baik data kajian dari Setara Institute dan UKP-PIP maupun data pribadinya akan digunakan untuk memperkaya dirinya bersama Anies dalam melakukan kegiatan di lapangan. Kegiatan tersebut diharapkan membuat hubungan warga Jakarta menjadi lebih erat.

“Ini dua-duanya, data kami gunakan untuk memperkaya tentang bagaimana nanti kegiatan kami di lapangan untuk memastikan warga lebih erat. Saya bilang, Pak Anies sama saya berbagi tugas. Kita perkuat toleansi dan kerukunan antarwarga,” terangnya.

Sebelumnya, peneliti Setara Institute, Halili, mengungkapkan DKI Jakarta mendapatkan skor toleransi terendah karena sepanjang November 2016 sampai Oktober 2017, setidaknya ada 14 peristiwa yang berhubungan dengan pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang terjadi di Ibu Kota.

Berdasarkan kajian yang dilakukan Setara Institute bekerja sama dengan UKP-PIP atas 94 kota, 10 kota mendapatkan skor toleransi terendah, yaitu DKI Jakarta dengan skor 2,30, Banda Aceh 2,90, Bogor 3,05, Cilegon 3,20, Depok 3,30, Yogyakarta 3,40, Banjarmasin 3,55, Makassar 3,65, Padang 3,75, dan Mataram 3,78.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT