Ilustrasi kartu ATM
Tersangka menduplikat kartu ATM atau kartu  kredit pelanggan cafe atau restoran.

Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya mengungkap  kejahatan pencurian uang lewat data kartu ATM dan nomor PIN. Penyidik menangkap empat tersangka.
 
"Kasus ini berawal dari laporan beberapa orang yang mengaku dana di  rekening bank menyusut dalam waktu singkat. Mereka melapor kepada  bank. Dari penelusuran bank terbukti ada penyusutan dana.  Pihak bank melapor ke Polda Metro Jaya," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya,  Komisaris Besar Polisi, Rikwanto, di Mapolda Metro Jaya hari ini.
 
Setelah penyidikan dan penyelusuran, polisi  akhirnya meringkus tiga tersangka di Bali dan satu tersangka di  Samarinda.
 
"Ada FT (35) tersangka sekaligus otak pelaku yang berperan sebagai penyedia  Skrimmer dan membuat kartu palsu; ZA (26) mengambil data-data kartu ATM  korban pakai Skimmer dan mengintip PIN juga bekerja sebagai kasir di  sebuah restoran di Bali; AA (25) mengambil data kartu ATM serta  mengintip PIN, juga kasir di restoran; dan TA penampung uang di  rekeningnya. Kerugian korban ada yang mencapai Rp 70 juta. Uang hasil  kejahatan itu, dipakai untuk belanja kebutuhan mereka," kata Rikwanto.
 
Para tersangka dikenakan pasal berlapis tentang  penipuan atau pemalsuan, pelanggaran Undang-undang ITE dan pencucian  uang.
 
"Terhadap mereka dikenakan pasal berlapis, 263 KUHP tentang pemalsuan  dengan ancaman 7 tahun, Pasal 35 juncto Pasal 51 No 11 tahun 2008  Undang-undang ITE ancaman 12 tahun, dan Pasal 3 atau 5 Undang-undang No 8  tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian  uang, ancamannya 20 tahun penjara," katanya.

Modus
Kasubdit Cyber Crime Direskrimsus, AKBP Audie S. Latuheru,  mengatakan modus tersangka menduplikat kartu ATM atau kartu  kredit pelanggan cafe atau restoran dengan mesin Skimmer dan mengintip  nomor PIN.
 
"Kartu ATM pelanggan digesekkan ke alat Skimmer dan dicuri datanya. Lalu  untuk memperoleh nomor PIN, mereka mengintip gerakan jari nasabah atau  pemilik kartu saat menekan keypad EDC. Selanjutnya, tersangka FT  memindahkan data ke kartu magnetik (kartu ATM atau sejenisnya)  menggunakan laptop dan dijadikan duplikat kartu. Setelah dipindahkan,  kartu tersebut bisa digunakan seperti biasanya di mesin ATM," katanya.
 
Menurut Audie, alat-alat yang digunakan tersangka bisa didapat dengan mudah karena dijual bebas di pasaran.
 
"Skimmer dijual bebas. Skimmer merupakan alat yang biasanya digunakan  untuk cek absen atau akses pintu masuk. Sementara kartu juga bisa  didapat dimana saja, asalkan magnetik (kartu ATM, Timezone, kartu rumah  sakit dan lainnya)," katanya.

Penulis: