Ilustrasi pistol
Peredaran senjata api di ibukota Jakarta bukan isapan jempol.

Seorang penjual senjata api membanderol sepucuk senjata mulai dari Rp4  juta sampai Rp20 juta. Harga bergantung merk dan jenisnya.

"Ya saya jual senpi (senjata api). Macam-macam jenis dan harganya. Ada yang Rp4 juta, Rp5 juta, Rp6 juta, Rp7 juta, dan Rp8 juta. Kalau buatan Jerman atau Rusia bisa sampai Rp10-Rp20 juta. Ada juga yang lebih, bergantung merek  dan jenisnya," ujar seorang pedangan senjata berinisial AJ kepada Beritasatu.com, Selasa (8/5).

Dikatakan AJ, kalau mau tahu jenis senjata dan merk, bisa datang langsung ke kantornya di Jakarta Timur. Ada banyak jenis senjata dari berbagai merk. 

"Kalau mau tahu jenisnya, datang saja ke kantor saya di bilangan Jakarta Timur. Silakan lihat, saya legal kok, tidak ada yang  ditutup-tutupi. Mau yang rakitan ada, pabrikan juga ada," tambahnya.

AJ menuturkan, pihaknya menjual senapan api secara legal di bawah naungan Persatuan Penembak Indonesia (Perbakin). Guna mendapatkan sepucuk  senjata tentu ada persyaratan yang harus dipenuhi.

"Ya, tentu ada syarat-syaratnya. Saya di bawah Perbakin, jadi registrasi Perbakin. Kalau mau, datang saja ke kantor," tukasnya.

Begitu mudah seseorang memperoleh senjata di Jakarta maupun kota lain membuat sejumlah orang menggunakannya secara semena-mena bahkan arogan.

Meski mereka membeli pistol atau senapan laras panjang dengan alasan membela diri atau sebagai hobi, terkadang mereka melabrak aturan.

Padahal, ada syarat tertentu yang harus dipenuhi sebelum memegang senjata api seperti psikotes maupun izin dari Perbakin dan Polri.

Kini, ulah arogan menodongkan bahkan menembak dengan senjata api bukan lagi monopoli anggota TNI/Polri tapi juga kalangan swasta. Lucunya, sampai ada wacana seorang anggota DPR minta dirinya dipersenjatai.

Penulis: