logo HKBP
Banyak cara yang dilakukan ratusan massa untuk membubarkan ibadah kami. Seperti, jalan menuju tempat ibadah diblokade.

Pendeta Jemaat HKBP Filadelfia, Tambun, Bekasi, Palti Panjaitan, menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya terkait kasus kekerasan, ancaman pembunuhan dan penghalangan ibadah oleh sebuah organisasi masyarakat.

"Iya tadi saya diperiksa. Pemeriksaan perdana sebagai saksi pelapor terkait ancaman pembunuhan pada 15 April 2012 lalu," ujarnya di Mapolda Metro Jaya, hari ini.

Palti mengatakan, saat pemeriksaan dirinya diberikan 16 pertanyaan seputar bagaimana proses pengancaman pembunuhan dan penghalangan beribadah.

"Ada 16 pertanyaan, soal proses pengancaman dan penghalangan beribadah," tambahnya.

Palti menuturkan, penghalangan beribadah bermacam-macam dilakukan. Di antaranya, intimidasi, memutar musik keras-keras, motor menerobos, dan membakar sampah.

"Banyak cara yang dilakukan ratusan massa untuk membubarkan ibadah kami. Seperti, jalan menuju tempat ibadah diblokade. Jadi, kami putuskan beribadah di tempat blokade itu. Ada intimidasi, putar musik keras-keras, bakar sampah, dan lainnya," terangnya.

Menyoal ancaman pembunuhan, Palti mengatakan, hal itu terjadi pasca ibadah.

"Setelah ibadah selesai, ancaman pembunuhan itu terjadi. Saudara terlapor (Azis) mendemonstrasikan bahwa saya akan dibunuh apabila tetap pimpin jemaat untuk beribadah di sana. Kepala saya dipenggal dan dibunuh," ungkapnya.

Berdasarkan aksi itu, Pendeta Palti ditemani pihak kuasa hukumnya melaporkan kejadian yang menimpanya ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya, dengan nomor laporan TBL/1337/IV/2012/PMJ/Dit Reskrimum, tentang kasus kekerasan, ancaman pembunuhan dan menghalangi ibadah, 20 April 2012 lalu. Sebagai terlapor adalah Azis, adik dari seorang tokoh agama di Bekasi.

Jika terbukti, Aziz dapat diancam pasal 175 KUHP tentang pelarangan ibadah, pasal 336 KuHP tentang pengancaman dan pasal 335 KUHP tentang  perbuatan tidak menyenangkan.

Penulis: /FER