10 Ribu Warga Jaktim Banjiri Kampanye Hidayat

10 Ribu Warga Jaktim Banjiri Kampanye Hidayat
Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta dari PKS, Hidayat Nur Wahid dan Didik J Rachbini. ( Foto: Antara )
Jumat, 29 Juni 2012 | 18:55 WIB
Mereka datang dari 10 kecamatan.

Memasuki hari keenam kampanye Pemilukada DKI Jakarta, dukungan untuk pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini kian marak. Buktinya, sekitar 10 ribu kader, simpatisan dan masyarakat Jakarta menghadiri kegiatan kampanye pasangan tersebut di Gelanggan Olahraga Remaja (GOR) Otista, Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (29/6).

Mereka datang dari 10 kecamatan, yakni Jatinegara, Duren Sawit, Kramat Jati, Cipayung, Ciracas, Pasar Rebo, Makasar, Matraman, Pulogadung, dan Cakung. Dengan atribut serba oranye, kondisi GOR seolah hanya dihiasi satu warna kebanggaan Jakarta tersebut. Keterbatasan kapasitas GOR yang sudah penuh sesak di atas tribun maupun di bawah, memaksa ribuan pendukung pasangan nomor 4 ini harus rela berada di luar.

Salah satunya yang mendukung pasangan dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini adalah pedangdut Muchsin Alatas. Artis dangdut era 1980-an itu menyatakan Hidayat merupakan sosok pemimpin yang dirindukan.

"Kalau ada orang yang kesusahan di dekatnya, Hidayat akan segera langsung turun tangan," jelasnya.

Selain dimeriahkan oleh lantunan dangdut, agenda kampanye pasangan Hidayat-Didik juga diramaikan oleh tim nasyid Gondez dan Izzatul Islam. Kemudian, Bang Heri Ivan yang menjadi pemenang lomba mirip Bang Dayat pun turut hadir. Bersama Ainuttijar, pesaingnya waktu itu, Heri menyamput kedatangan Hidayat di depan GOR. Kehadiran mereka pun jelas menambah kesemarakan kampanye.

Hidayat juga sempat bersantap siang bersama dengan masyarakat di warung tegal (Warteg) Gewart Dagu, usai memberi khutbah di Masjid Al Hidayat. Pada kesempatan itu, dia menyatakan ketidaksetujuannya dengan kebijakan pemerintah provinsi DKI untuk menerapkan pajak terhadap rumah makan sederhana seperti Warteg.

"Barangkali alasan pemerintah daerah memberlakukan pajak untuk warteg adalah untuk tambahan anggaran. Sementara, jika anggaran bisa dikelola dengan baik tanpa ada kebocoran sana-sini, maka kebijakan tersebut tidak perlu ada," katanya.

Justru seharusnya, pemerintah mendorong berkembangnya usaha menengah, bukan mempersulit. Mantan presiden PKS itu menjelaskan keberadaan warung tegal adalah sebuah solusi pemenuhan kebutuhan masyarakat.

"Sewaktu saya menjabat sebagai Ketua MPR, saya sering makan di warteg. Perkara sekarang saya menjadi salah satu calon gubernur, hal itu tak perlu dipersulit. Kita tahu bahwa harga makan di warteg lebih terjangkau," kata Hidayat.
CLOSE