Pengurus Paguyuban Orangtua Peduli Sekolah (POPS) SMPN 1 Cikini Kusman Sulaeman (Kiri), Mantan Ketua Komite SMAN 70 Jakarta Musni Umar (kedua kiri), peneliti ICW Febri Hendri(tengah), Pengurus POPS SMPN 1 Cikini Rahma Sulaeman (kedua kanan), dan Pengurus Aliansa Orangtua Peduli Pendidikan Indonesia (APPI) Juwono (kanan), menunjukkan bukti dugaan korupsi di sekolah internasional.
Menurut ICW, Musni haris dilindungi. Sebab, jika dibiarkan dapat membungkam kritisisasi publik soal keuangan masyarakat di sekolah.

Mantan Komite Sekolah (komsek) SMAN 70, Musni Umar, memenuhi panggilan penyidik Polda Metro Jaya, terkait kasus pencemaran nama baik lewat tulisan di blog pribadinya, yang menyatakan adanya dugaan praktik korupsi di sekolah berlabel rintisan bertaraf internasional itu.
 
Bersama Musni, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) dan Indonesia Corruption Watch (ICW), turut menemani. Mereka memberikan dukungan moral kepada Musni untuk membongkar kasus tersebut.

"Maksud kedatangan kami mendampingi mantan komsek SMAN 70, Musni Umar, yang dipanggil penyidik sebagai tersangka terkait kasus dugaan pencemaran nama baik. Pak Musni dipanggil karena menulis di blog pribadinya tentang adanya dugaan korupsi di SMA 70," ujar Koordinator  Monitoring Pelayanan Publik ICW, Febri Hendri, di Mapolda Metro Jaya, Senin (2/7).
 
Menurut Febri, Musni haris dilindungi. Sebab, jika dibiarkan dapat membungkam kritisisasi publik soal keuangan masyarakat di sekolah.

"Kami tak ingin itu terjadi, Kami kumpulkan sapu lidi sebagai dukungan atau simbol pembersihan agar sekolah bisa bebas dari korupsi," tandas Febri.

Lebih lanjut Febri menuturkan bahwa pihaknya juga mencurigai adanya kejanggalan soal keuangan di SMAN 70. Pasalnya, kepala sekolah menerima Rp20 juta per bulan di luar gaji.
 
"Kami lihat kepala sekolah dapat honor Rp20 juta perbulan di luar gaji. Ada bukti kwitansi dari komsek. Padahal, PNS itu dilarang mendapatkan uang di luar gaji dan tak ada kewajiban komite memberikan uang. Kami harus lihat itu di luar grativikasi atau tidak. Kami akan kumpulkan bukti-bukti, kalau terbukti kami laporkan balik tentang tindak pidana  korupsi," tandasnya.
 
Berikut pernyataan FSGI melalui rilis yang diberikan kepada wartawan:
 
1.Mendukung Pak Musni Umar dkk. Mantan Komite Sekolah (Komsek) SMAN 70  untuk terus berjuang dan kuat menghadapai kriminalisasi ini (kasus  pencemaran nama baik).
 
2. Sebagai guru, kami juga mendukung transparasi keuangan di setiap  sekolah. Kami membutuhkan komsek kritis seperti pak Musni dkk. bukan  komsek yang main stempel dan berharap proyek dari sekolah.
 
3. Kami yakin bahwa kriminalisasi ini adalah upaya membungkam keberanian  dan kekritisan orang tua siswa dan guru yang menuntut adanya  transparasi laporan keuangan di sekolah.
 
Berdasarkan pantauan Beritasatu.com, hingga pukul siang ini, Musni Umar masih diperiksa Unit Satu Cyber Crime Direktorat Polda Metro Jaya.

Penulis: