Topeng Monyet
Atraksi topeng monyet jalanan bukan saja pelanggaran akan kesejahteraan hewan seperti yang diatur dalam pasal 302 Kitab Hukum Undang–undang Hukum Pidana

Hasil karantina dan tes kesehatan yang dilakukan terhadap monyet-monyet ekor panjang dari atraksi topeng monyet jalanan yang disita oleh kelompok pembela kesejahteraan hewan Jakarta Animal Aid Network (JAAN) dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menunjukkan bahwa mereka menderita penyakit kronis yang dapat menular dari manusia ke hewan dan sebaliknya atau zoonosis.

Femke den Haas juru bicara JAAN, mengatakan hal ini semakin menguatkan perlunya larangan mempekerjakan monyet sebagai atraksi topeng monyet jalanan karena mereka dapat menjadi agen penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC), hepatitis B dan hepatitis C melalui interaksi mereka dengan manusia.

“Atraksi topeng monyet jalanan bukan saja pelanggaran akan kesejahteraan hewan seperti yang diatur dalam pasal 302 Kitab Hukum Undang–undang Hukum Pidana, tapi juga merupakan ancaman serius bagi kesehatan publik, karenanya hal ini perlu mendapat perhatian yang serius dan segera dari pemerintah,” kata Femke, hari ini.

Femke mengatakan sejak tahun lalu, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo telah memberikan dukungan tertulis kepada JAAN untuk menyita monyet-monyet yang dipekerjakan sebagai topeng monyet di jalan-jalan Jakarta, dan merehabilitasi mereka untuk dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.  Penyitaan itu dilakukan sejak Maret tahun ini melalui kerjasama dengan Satuan Polisi Pamong Praja di empat wilayah Jakarta Selatan yaitu Ragunan, Jalan Fatmawati, Pondok Pinang dan Pejaten dan telah berhasil menyita 21 monyet.

Femke mengatakan bahwa setelah monyet-monyet itu disita, mereka dikarantina dan dicek kesehatannya sebelum masuk dalam tahap rehabilitasi. 

“Hasil test dan karantina yang dilakukan oleh dokter hewan JAAN menemukan bahwa tiga dari semua monyet yang disita menderita tuberkulosis yang parah dan fatal bagi primata-primata tersebut. Membiarkan mereka berada di tempat umum untuk berinteraksi terbuka dengan publik dapat menjadi ancaman yang berbahaya bagi kesehatan publik,” kata Femke.

Dia menambahkan bahwa setelah memberikan dukungan kepada JAAN untuk menyita dan merehabilitasi  monyet jalanan, langkah selanjutnya yang akan diambil oleh Pemprov DKI Jakarta adalah mengeluarkan peraturan untuk melarang secara hukum penggunaan dan mempekerjakan monyet sebagai atraksi topeng monyet di jalanan. “Kami sedang menunggu peraturan itu diproses,” ujar Femke.


Penulis: /FEB