Ilustrasi polisi mengatur arus lalu lintas
Kecelakaan lalu lintas berawal dari pelanggaran yang dilakukan oleh pengendara.

Di luar itu, faktor pertumbuhan kendaraan dan kelalaian pengemudi pun ikut memengaruhi.

Sehubunngan dengan itu, perlu dilakukan upaya dan langkah sistemik, tegas dan konsisten, untuk mengatasi kecelakaan. Hal itu seperti dikatakan oleh pengamat transportasi, Azas Tigor Nainggolan, kepada Beritasatu.com, Rabu (02/01).

"Menurut saya, Undang-undang (UU) Lalu Lintas sudah oke. Tinggal bagaimana penegakan hukum dan kontrolnya. Harus dilakukan upaya sistemik, tegas dan konsisten. Sistemik melakukan kampanye berlalu lintas dengan baik, tegas dalam menindak, dan konsisten, artinya betul-betul dilakukan," ujar Tigor.

Dikatakan Tigor, pihak kepolisian harus semakin menggalakkan kampanye berkendara dengan aman dan nyaman.

"Kampanye harus segera dilakukan di tengah masyarakat, karena saya lihat masih minim. Polisi di lapangan juga sangat minim. Kampanyekan juga ke sekolah-sekolah. Pantauan saya, banyak anak sekolah yang tak punya SIM, bawa kendaraannya ke sekolah. Gede-an motornya daripada yang bawa. Harus dilarang. Bahkan, kemarin pengemudi angkot yang baru 16 tahun (kasus penodongan M-06A), tidak punya SIM, bisa narik (mengemudi angkot). Ironis," jelasnya.

Hal yang harus dilakukan selanjutnya, menurut Tigor adalah penindakan tegas. Tigor menyampaikan, kontrol kepolisian terhadap pelanggaran di jalan juga masih lemah.

"Polisi harus tegas, galakkan razia. Jangan hanya pada saat seremonial (Operasi Zebra) saja dilakukan, namun harus sering digelar. Razia itu jangan hanya soal administrasi, seperti tak bawa SIM atau melanggar rambu, namun juga melihat kualitas pengendaranya. Apakah dia mabuk atau dalam keadaan mengantuk," paparnya.

"Mabuk itu melanggar UU. Ada aturannya. Bukan hanya ketika terjadi kecelakaan, lalu diketahui pengemudi mabuk, baru dikenakan pidana. Kalau ketahuan saat razia pengemudi mabuk, itu sudah pelanggaran. Bahkan, bisa kena tiga pasal, pertama UU lalu lintas, UU Narkotika, dan UU pidana. Karena itu, harus digalakkan razia dan kontrolnya," tambahnya.

Ketika ditanya, apa kira-kira penyebab umum terjadinya kecelakaan di jalan, Tigor menegaskan bahwa suatu kecelakaan umumnya bermula dari sebuah pelanggaran.

"Awalnya dari sebuah pelanggaran. Tidak disiplin. Bisa juga karena kelalaian pengendara. Perkembangan jumlah kendaraan pun dapat juga memengaruhi," ungkapnya.

Menyoal bagaimana cara mendisiplinkan pengguna jalan, Tigor menegaskan soal perlu adanya pendidikan dini dalam berlalu lintas. Berdasarkan data Dewan Transportasi Kota Jakarta, pendidikan di sekolah tentang lalu lintas baru sebesar 0,01 persen.

"Perlu dilakukan pendidikan dan penyuluhan sejak dini, agar anak-anak tahu berlalu lintas dengan baik. Sejauh ini, pendidikan kepada publik, materinya baru 0,01 persen di sekolah. Perlu dikembangkan lagi. Kalau anak sejak kecil sudah tahu, dimungkinkan mereka akan disiplin saat dewasa. Minimal sudah tahu apa pelanggaran dan bahayanya. Bisa juga anak-anak nanti yang mengingatkan orang tuanya saat di jalan," tegasnya.

Penulis: