Demonstrasi buruh yang dilakukan untuk menuntut mundurnya Kapolres Bekasi.
Petugas kepolisian mengawasi aksi buruh di depan Polda Metro Jaya Jakarta.
Saat buruh melakukan unjuk rasa beberapa waktu lalu di PT Samsung, Cikarang, Bekasi, ada sekelompok preman yang bebas melakukan kekerasan tanpa tindakan preventif dari petugas kepolisian.

Ribuan buruh menggelar aksi unjuk rasa di depan pintu gerbang Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya), Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, untuk menolak kriminalisasi dan premanisme kepada buruh.
 
"Hari ini, kita melakukan aksi di depan Polda Metro Jaya menuntut kepada Kapolda (Irjen Pol Putut Eko Bayuseno) agar bertindak tegas dalam menindak kriminalisasi dan premanisme kepada buruh," ujar Koordinator Aksi M. Nurdin, di atas mobil komando, Rabu (16/1).
 
Dikatakan Nurdin, pada saat buruh melakukan unjuk rasa di PT Samsung, Cikarang, Bekasi, ada sekelompok preman mengatasnamakan masyarakat menentang aksi dan memukuli buruh.
 
"Saat kami melakukan aksi di PT Samsung, nyata-nyatanya ada masyarakat tak jelas atau oknum, menentang, melawan, bahkan memukuli kaum buruh. Kami punya hak untuk dilindungi negara. Ternyata, kami dihadang sekelompok preman. Premanisme dibiarkan merajalela. Mereka kelompok yang tak punya izin, malah bebas melenggang membawa senjata tajam. Di mana  kepolisian?" jelasnya.
 
Nurdin pun menuntut kepada Kapolda untuk memanggil Kapolres Kabupaten Bekasi AKBP Isnaeni Ujiarto dan meminta kepadanya agar dapat menyelesaikan masalah premanisme dan tindak kriminalisasi terhadap buruh.
 
"Kepada Kapolda, kami meminta memanggil Kapolres Bekasi Kabupaten dan  menugaskan agar permasalahan terkait premanisme diselesaikan. Atau jangan-jangan kita mau diadu domba. Demi rakyat Indonesia kita tak akan mundur. Hukum perburuhan, diselesaikan hukum perburuh. Jangan dengan preman. Hidup buruh!" seru Nurdin.
 
Salah satu perwakilan buruh, Suparno yang berdiri di atas mobil komando juga meneriakan tuntutan agar Kapolda memecat Kapolres Bekasi Kabupaten.
 
"Buruh meminta Kapolda untuk mencopot Kapolres Kabupaten Bekasi. Ia tidak bisa memimpin, tak bisa berbuat banyak. Buktinya, pada saat kita melakukan unjuk rasa banyak preman membawa samurai namun dibiarkan. Tidak dilucuti samurainya, tidak dibubarkan. Bagaimana ini? Apakah ini keadilan? Ada pembiaran dan kami minta Kapolres dipecat," paparnya.
 
Sementara salah satu koordinator buruh lainnya, Ferry, mengatakan pada  hari ini buruh akan melawan kriminalisasi dan premanisme di Bekasi. Lalu  menolak penangguhan UMP atau UMK, tolak kenaikan tarif dasar listrik,  dan meminta hapuskan praktik mafia dan outsourcing di perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
 
"Buruh Bekasi dihadapkan pada premanisme dan kriminalisasi. Kami meminta  agar ada perlindungan dan kasus itu diproses. Kapolres Bekasi Kabupaten tak bisa berbuat banyak. Kami harapkan supaya ada instruksi langsung dari Kapolda, kalau bisa diganti Kapolres-nya. Selanjutnya, kami akan ke  Kementerian BUMN meminta PT Indofarma mengangkat pekerjanya menjadi  karyawan tetap, lalu ke ESDM tolak kenaikan tarif dasar listrik, dan ke  Menakertrans meminta menolak penangguhan UMK 2013, supaya tak ada  penangguhan," terangnya.
 
Menurut Ferry, rencananya sebanyak 5.000 buruh akan turun ke jalan menyuarakan tuntutannya.
 
"Aksi ini gabungan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI),  Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia, dan buruh lainnya dari Bekasi. Ada 5.000 orang tadi yang berangkat ke sini. Mungkin masih macet di jalan," tandasnya.
 
Berdasarkan pantauan BeritaSatu.com, ribuan buruh memenuhi jalur lambat  di depan Pintu Gerbang Polda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman,  Jakarta. Akibatnya, jalur lambat ditutup. Jalur cepat ke arah Blok M pun mengalami kemacetan.
 
Dua mobil komando diparkir di depan pintu gerbang. Seraya koordinator  aksi menyuarakan tuntutannya, ratusan buruh lainnya mengibarkan bendera  dan membentangkan spanduk.
 
Sedangkan, ratusan aparat kepolisian dengan peralatannya, mengawal ketat jalannya aksi unjuk rasa. Dua unit barracuda nampak terparkir di belakang pintu gerbang.

Penulis: