Warga berjalan melintasi banjir dengan berpegangan tali saat banjir merendam kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur. FOTO: EPA/MAST IRHAM

"Konseling trauma ini sudah berlangsung sejak awal terjadinya bencana banjir di DKI Jakarta. Hingga saat ini kami masih membuka layanan konseling itu."

Jakarta - Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) memberikan konseling trauma bagi di sejumlah posko banjir di wilayah DKI Jakarta.

"Konseling trauma ini sudah berlangsung sejak awal terjadinya bencana banjir di DKI Jakarta. Hingga saat ini kami masih membuka layanan konseling itu," ujar Wakil Presiden ACT N Imam Akbari di Jakarta, Senin (11/2).

Konseling tersebut dilakukan di 50 posko banjir ACT. Konseling diberikan kepada anak-anak dan dewasa. Bagi anak-anak dapat berupa permainan, sedangkan dewasa melalui dialog-dialog.

"Bencana mengakibatkan kehilangan harta benda bahkan nyawa. Tak sedikit kerugian yang diderita. Karakter bencana yang datangnya tiba-tiba itu membuat korban menjadi tidak siap," jelas dia.

Guncangan psikologis tersebut, lanjut dia, bisa mempengaruhi kestabilan emosi para korban banjir.

Bagi yang tidak kuat mentalnya dan tidak tabah dalam menghadapi petaka, bisa mengalami guncangan jiwa yang dahsyat dan berujung pada stres berat yang sewaktu-waktu bisa menjadikan mereka lupa ingatan atau gila.

"Proses pemulihan kondisi psikis para korban bencana ini memerlukan penanganan dan perhatian khusus karena bila diabaikan dapat menggangu kualitas hidup penderita dalam jangka panjang." Konseling trauma dapat membantu para korban bencana menata kestabilan emosinya Selain memberikan layanan konseling, ACT bekerja sama dengan berbagai pihak menyelenggarakan program rehabilitasi dan rekontruksi bagi korban banjir.

"Bantuan yang diberikan berupa bantuan usaha maupun renovasi rumah," lanjut Imam.

ACT bekerja sama dengan Plaza Blok M menggelar aksi solidaritas multikultur dan lintas generasi yang dinamakan "Cinta Tempo Doeloe" bertempat di Plaza Blok M yang diselenggarakan pada 11 Februari hingga 21 Februari.

Acara tersebut mengangkat nilai-nilai gotong royong dan berupa pameran mobil klasik, bursa barang-barang tempo dulu, museum mini, aneka jajanan, wisata sosial ke kampung terpadat di Jakarta, barongsai, dan pertunjukkan amal.

Penulis: Ardi Mandiri

Sumber:Antara