Termasuk galeri 9/11, berisi pemberitaan serangan menara kembar WTC di New York, Amerika Serikat tanggal 9 September 2001 silam.
Kesempatan untuk menyaksikannya datang saat saya berkunjung ke Newseum, sebuah museum interaktif mengenai 500 tahun sejarah pemberitaan jurnalisme di Washington, DC Amerika Serikat, Oktober lalu.
Saya dapat mengetahui berbagai aspek seputar pemberitaan peristiwa-peristiwa bersejarah dunia seperti serangan menara kembar World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat tanggal 9 September 2001 silam.
Sesaat setelah memasuki museum ini melalui Jalan C, kami segera menuju Teater Walter dan Leonore Annenberg, sebuah teater yang menyajikan pengalaman 4 Dimensi untuk menyaksikan film singkat berjudul "I-Witness", sebuah film tentang momen-momen penting dalam sejarah pemberitaan dan jurnalisme investigasi.
Film berdurasi 13 menit itu disajikan dalam format 3 Dimensi sambil penonton dapat merasakan langsung efek spesial seperti kursi yang bergoyang, hembusan angin dan cipratan air.
Seusai menyaksikan film itu, salah seorang petugas museum yang berseragam kaos hijau menyarankan kami cara terbaik untuk melihat-lihat museum ini, yaitu dengan langsung naik ke lantai enam dan melihat-lihat koleksi museum ini sambil turun kembali menuju lantai satu.
Saya mengikuti saran itu dan langsung memasuki lift ekspres ke lantai enam dimana terdapat balkon dengan pemandangan indah ke Pennsylvania Avenue, yang dijuluki sebagai jalan utama Amerika Serikat karena menjadi poros jalan penghubung antara United States Capitol, gedung pertemuan anggota kongres yang terlihat di arah tenggara dari teras ini, dengan Gedung Putih.
Pengunjung dapat mempelajari sejarah jalan tersebut melalui teks dan gambar yang terdapat di sepanjang balkon. Selain itu, di lantai enam juga terdapat galeri yang memamerkan halaman depan koran-koran di Amerika dan negara-negara lain seputar pemberitaan mengenai Badai Katrina yang melanda New Orleans, Lousiana di tahun 2005.
Di lantai lima museum ini terdapat satu teater layar lebar serta lima teater kecil berkapasitas 25 penonton yang menyajikan film dokumenter singkat seputar praktik jurnalisme seperti penggunaan narasumber, bias dalam berita dan peran pers dalam pergerakan sipil.
Saya lalu melanjutkan tur dalam museum ini ke lantai empat, dimana ada juga sebuah teater layar lebar yang memutar film dokumenter tentang pekerjaan fotografer resmi presiden Amerika Serikat.
Namun yang paling menarik di lantai ini adalah Galeri 9/11 yang mendedikasikan satu sisi temboknya untuk menampilkan halaman depan dari berbagai koran di dunia yang memberitakan tentang runtuhnya menara kembar WTC di New York pada tanggal 9 September 2001.
Peristiwa itu tidak diragukan telah menorehkan sejarah dalam perkembangan jurnalisme dan pemberitaan di Amerika Serikat, yang bisa dipelajari dari linimasa yang ditampilkan di galeri ini seputar pemberitaan serangan tersebut sejak awal peristiwanya terjadi.
Hal yang paling menarik di lantai tiga museum ini adalah sudut Journalist Memorial, yaitu sebuah tembok kaca dimana tertera nama-nama jurnalis, pewarta foto dan penyiar yang meninggal dunia ketika sedang mengerjakan mengerjakan tugas jurnalisme mereka.
Sementara itu di lantai dua, pengunjung museum bisa mencoba menjadi reporter televisi di ruang redaksi interaktif. Pengunjung juga dapat mencoba sejauh mana pengetahuan etika mereka dalam mengerjakan profesi jurnalis dengan mencoba permainan interaktif sebagai seorang wartawan yang harus mengambil keputusan dalam pekerjaannya berdasarkan pertimbangan etis.
Karena waktu yang terbatas, saya tidak dapat menikmati semua fasilitas studio, teater dan saran interaktif yang ada di hampir setiap lantai museum. Perjalanan saya mengelilingi museum ini berakhir di lantai satu, dimana terdapat galeri foto yang menampilkan karya foto jurnalistik terbaik peraih penghargaan Pullitzer.
Pengunjung yang baru tiba maupun yang akan keluar dari museum ini pun tetap tidak lepas dari pameran seputar berita. Ketika saya dan rekan-rekan keluar dari museum melalui Pennsylvania Avenue dan menjumpai sederetan halaman depan koran dari belahan dunia terbitan hari itu dipamerkan di depan museum.
Sesuai dengan namanya, Newseum ini memang benar-benar sebuah museum berita dan tentunya sangat menarik untuk dikunjungi terutama oleh mereka yang berprofesi sebagai jurnalis.




