Konferensi pers Indonesia Fashion Week (IFW) 2014 dihadiri oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, serta perwakilan dari Kementerian Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, serta Kementerian Koperasi dan UKM di Galeri Nasional, Jakarta, Kamis (13/2)

Industri "Fashion" Indonesia Sumbang Rp 181 Triliun untuk PDB

Konferensi pers Indonesia Fashion Week (IFW) 2014 dihadiri oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, serta perwakilan dari Kementerian Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, serta Kementerian Koperasi dan UKM di Galeri Nasional, Jakarta, Kamis (13/2) (Herman/Beritasatu.com)

Jakarta - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu mengatakan, fashion merupakan salah satu industri yang penting dalam pengembangan Industri Kreatif Indonesia. Di tahun 2013, dari 15 sektor Industri Kreatif, fashion menjadi penyumbang terbesar kedua terhadap product domestic bruto (PDB) Nasional.

“Tahun lalu, kontribusi industri fashion sebesar Rp 181 triliun dari total 15 sektor ekonomi kreatif sebesar Rp 642 triliun. Jadi, kalau ekonomi kreatif memberi sumbangan 7% kepada PDB, kontribusi industri fashion itu 2%. Jadi, memang luar biasa pentingnya sektor fashion ini karena pertumbuhannya di tahun lalu itu 6,4% atau lebih tinggi dari pertumbuhan nasional sebesar 5,7%,” kata Mari Elka Pangestu di Jakarta, Kamis (13/2).

Di luar itu, industri fashion menurut Mari Elka juga menyerap sekitar 3,8 juta tenaga kerja dari 11,9 juta tenaga kerja di ekonomi kreatif, serta menyumbang sekitar Rp 76 triliun terhadap ekspor.

“Data-data tersebut menggambarkan bahwa industri fashion ini memang sangat penting dalam konteks pengembangan industri kreatif. Potensinya sangat besar bukan saja untuk pasar dalam negeri, tapi juga pasar luar negeri,” ungkapnya.

Dengan berkembangnya golongan middle class, menurutnya, saat ini juga semakin banyak orang yang bersedia membayar sedikit lebih mahal untuk produk fashion yang didesain lebih baik, bahkan untuk brand dalam negeri. Karena itu, Kemparekraf juga telah membuat beberapa program untuk mengembangkan brand dan desain lokal.

“Untuk bisa berkembang, kita juga ingin go local dan go green. Yaitu, mencari kearifan lokal yang ada di Indonesia dan menerjemahkannya ke dalam fashion Indonesia, tetapi tidak terlepas dari tren dunia. Kita juga telah sepakat, ke depannya harus lebih mendorong penggunaan bahan baku yang ramah lingkungan. Misalnya, batik, dalam semua sentra kreatif yang kita kembangkan, kita mendorong penggunaan warna alam karena limbahnya tidak merusak lingkungan,” pungkas Mari Elka.

Herman