Ilustrasi gereja.
Terdapat 11 jenis pelanggaran jaminan kebebasan beragama

Wajah perlindungan kebebasan beragama di Indonesia nampaknya semakin suram. Hal itu terbukti dari semakin banyaknya peristiwa yang  mengancam jaminan kebebasan beragama di Indonesia sebagaimana hasil  evaluasi situasi Hak Asasi Manusia (HAM) Indonesia oleh Lembaga Studi  dan Advokasi Masyrakat (Elsam) selama empat bulan pertama tahun 2012.

"Setidaknya ada 21  kasus yang terkait dengan jaminan kebebasan beragama terjadi di antara  Januari hingga April 2012," kata Koordinator Pemantauan Kebijakan Elsam,  Wahyudi Djafar di Jakarta, hari ini.

Wahyudi mengatakan dari 21 kasus tersebut, Elsam mengategorikannya menjadi 11 macam pelanggaran jaminan kebebasan beragama. Menurut  Wahyudi, pelanggaran kebebasan beragama yang selama caturwulan pertama  tahun 2012 kerap terjadi adalah penutupan tempat ibadah dan  kriminalisasi keyakinan sebanyak empat kasus.

Kasus lainnya, kata Wahyudi adalah berupa tindakan  kekerasan, pengrusakan tempat ibadah, penyerangan aktivitas peribadatan,  dan pembubaran kelompok kepercayaan. Masing-masing terdapat dua kasus.

Selanjutnya, masing-masing satu kasus untuk  pelarangan tempat ibadah, pelarangan keyakinan, pengusiran karena  tuduhan sesat, pembubaran akktivitas keagamaan.

"Persebaran  kasusnya pun semakin meluas. Dulu hanya terkonsertasi di Jawa, tapi  kini terjadi pula di Jambi dan Riau," kata Wahyudi.

Akan tetapi, mayoritas pelanggaran kebebasan  beragama terjadi di Jawa Barat dengan sembilan kasus, sementara di Jawa Tengah terjadi empat kasus  dan di Yogyakarta ada dua kasus.

Wahyudi  mengatakan Pemerintah Pusat cenderung lepas tangan terhadap kebebasan  beragama. Pemerintah pusat, kata Wahyudi malah menyerahkan persoalan  penyelesain ini kepada Pemerintah daerah.

Padahal, kata Wahyudi, menyerahkan penyelesaian  kasus ini kepada Pemerintah Daerah bukan menjadi solusi. Pasalnya, kata  Wahyudi, pemerintah daerah justru dinilai telah gagal membeirkan  perlindungan kepada kelompok minoritas.

"Kasus GKI Yasmin dan HKBP Filadelpia di Bekasi  menjadi bukti kegagalan Pemerintah Daerah melindungi kelompok  minoritas," kata Wahyudi. Berdasarkan jumlah  korban pelarangan kebebasan beragama, wahyudi mengatakan terdapat  perubahan dari tahun sebelumnya. Menurut catatan Wahyudi, jika di tahun  2011 yang banyak menjadi korban adalah kelompok Ahmadiyah, maka tahun  ini adalah kelompok Kristen.

"Ada delapan kasus pelanggaran yang dialami kelompok kristen. Kelompok Ahmadiyah hanya ada tiga kasus," kata Wahyudi.Juga,  kata Wahyudi ada kelompok agama baru yang menjadi korban pelanggaran kebebasan beragama, yaitu Kelompok Syiah di Sampang Madura. Di awal tahun 2012 , pemimpin Syiah setempat, yaitu  Ustadz Tazul Muluk dikenakan pidana penodaan agama dan tuduhan  menyebarkan aliran sesat.

"Padahal Tajul Mulk  dan keluarganya adalah korban yang menuntut keadilan atas tindakan para  penyerang, yang telah membakar rumah dan tempat ibadah mereka," kata  Wahyudi. 

 


Penulis: