Reuni 4E: Nostalgia Persahabatan Empat Dekade

Ebiet G Ade bernyanyi dalam sebuah reuni bersama tiga sahabatnya: Emha Ainun Najib, Eha Kartanegara dan Eko Tunas, di Tegal, Jawa Tengah, 6 April 2013. (Courtesy of Uud N Hudana/ Members EGA)

Oleh: Hari Gunarto / HA | Kamis, 11 April 2013 | 20:20 WIB

Jakarta - Betapa menggetarkan gelora sensasi yang terpancar manakala empat seniman menghidupkan kenangan persahabatan yang terkubur empat dekade dalam sebuah temu kangen. Bentang jarak dan lintasan hidup masing-masing telah mengendurkan intensitas tali silaturahmi empat seniman tersebut, walau terkadang mereka masih berjumpa dalam sekelebat momen-momen yang terserak.

Gedung Teater Arena Taman Budaya Tegal, Sabtu (6/4) lalu, menjadi tumpahan nostalgia empat seniman yang kondang dengan sebutan 4E: yakni Emha Ainun Najib (budayawan, penyair, dan kyai), Ebiet G Ade (penyanyi-pelaku musikalisasi puisi), Eha Kartanegara (penyair, penulis, pelaku teater), serta Eko Tunas (pelaku teater, penyair, dan pelukis). Kota Tegal dipilih sebagai panggung reuni 4E, sekaligus menandai peluncuran buku kumpulan cerpen Eko Tunas.

Mereka mencoba memutar ulang rekam jejak dan lembaran kisah yang terbentang selama kurun waktu 1970-an, saat 4E bersama-sama menapaki ‘karier kesenimanan’ di Malioboro, Yogyakarta. Maka, yang tercipta kemudian adalah aroma kehangatan yang cair, segar, dan penuh guyon. Mereka saling memuji dan meledek. Suasananya pun khas Yogya, kota kelahiran kedua bagi mereka.

Emha Ainun Najib, misalnya, bercerita bahwa Ebiet dulu (sebelum ngetop dan masuk dapur rekaman) kepengin ditemani dia ketika manggung bersama. “Ebiet nggak perlu duet dengan saya. Wong dia tampil dengan suara emasnya saja sudah jadi terkenal kok. Apalagi kalau duet dengan saya, bisa meledak dunia,” tutur Cak Nun yang disambut riuh tawa penonton.

Lain lagi pujian yang dilontarkan Eha Kartanegara kepada Ebiet. “Indonesia itu dahsyat dan indah, karena punya Ebiet G Ade.”

Bagi Ebiet, yang boleh dibilang bungsu alias paling yunior di antara 4E, mereka bertiga dianggap sebagai gurunya.

“Mereka adalah guru saya, mereka orang-orang pintar,” tutur Ebiet. Lantaran paling muda, Ebiet merasa jadi orang yang paling diuntungkan dari persahabatan ini, karena dia banyak menimba ilmu.

Ebiet mengilustrasikan persahabatannya begitu puitis: “Bahwa nilai persahabatan sejati, tak hanya bisa diukur dengan kedekatan fisik, hasrat, dan cara pandang. Ternyata ruh dari persahabatan adalah pada keikhlasan melekatkan hati, tak luruh, tak lekang, meski telah berumur lebih dari 40 tahun. InsyaAllah, kami berempat adalah sahabat sejati.”

Dalam selorohnya di panggung itu, Ebiet mengaku takkan pernah bisa melupakan kelakuan unik Eko Tunas soal malas mandi. “Mas Eko Tunas kalau disuruh mandi susah banget. Seolah-olah buat dia mandi itu pekerjaan yang sangat berat,” kata pencipta 144 lagu ini. Sedangkan di mata Eha Kartanegara, Eko adalah sosok yang pandai menyembunyikan bakatnya.

Dasar seniman, Eko Tunas menanggapi dengan enteng dan datar saja. “Hidup itu tidak ada yang luar biasa, Hanya biasa-biasa saja”. Lho? Bisa jadi itu ungkapan jujurnya, atau sekadar hendak melucu.

Cikal Bakal
Titik awal persahabatan Emha-Ebiet-Eha-Eko bermula dari Yogya, pada dekade 1970-an. Menurut penuturan Ebiet dalam situs resminya, mereka hampir setiap hari selama beberapa tahun selalu bersama – sama. Boleh dikata, mereka tidur dengan berebut selimut, atau makan berebut lauk dalam satu piring.

Magnet utama di lingkaran persahabatan itu adalah Emha, yang dianggap sebagai saudara, sahabat, kakak, konsultan, dan penuntun serta sering kali berperan juga sebagai “juru bayar” atau pegadaian untuk seniman-seniman muda yang ngumpul di Kadipaten Lor, tempat kos Emha di Yogya. Emha adalah pintu masuk untuk berkenalan dengan banyak seniman lain.

Di kamar Emha yang berserakan dengan buku-buku dari berbagai topik, dengan “aroma” yang sangat spesifik, Ebiet banyak menjaring referensi untuk berbagai hal. Dari sanalah langkah kesenimanan Ebiet bermula.

Tapi, tonggak sejarah penting cikal bakal kepopuleran 4E, khususnya Ebiet, justru tertancap di sini. Suatu ketika, medio 1970-an, bakal digelar pertemuan akbar dengan acara diskusi dan pentas seni di Yogya. Emha mengajak Ebiet untuk ikut tampil. Namun Ebiet masih bingung harus membawakan apa, sementara seniman lain -- termasuk Emha, Eha, dan Eko -- umumnya membacakan puisi dan syair.

Muncullah ide Ebiet untuk membuat melodi dari puisi berjudul "Nobody" buah karya Emily Dickinson, penyair wanita kelahiran Massachussets, Amerika serikat. Ternyata Emha menyambut antusias gagasan itu, diamini Eko Tunas.

“Dan gongnya adalah Karta, yang yakin bahwa suara saya akan ‘melibas’ penampil lain. Pendapat yang bombastis tetapi terbukti memberi spirit dan energi, dan mungkin membangitkan indra keenam saya,” tutur Ebiet.

Semalam suntuk Ebiet tidak tidur, menyusun melodi, meski sesungguhnya dia tidak paham samasekali pola penciptaan lagu. Dia hanya mengandalkan intuisi.

“Dan, Nobody berhasil saya buat menjadi nyanyian dalam semalam! Saya merasa seperti penyihir sekaligus komposer besar,” cerita Ebiet mengenang.

Ebiet merasa perlu mencari lagu lain sebagai pendamping Nobody. Setelah mencari-cari dan baca sana-sini, dia terpikat pada puisi Emha Ainun Najib bertajuk “Kubakar Cintaku”. Dia harus lebih hati-hati menciptakan melodinya, takut si empunya puisi ‘marah’ bila nadanya sampai menghilangkan ruh dan jiwa puisi tersebut. Tapi akhirnya tuntas sudah.

Dan ketika dua lagu dia tampilkan, dalam degup jantung dan sedikit gemetar, ditambah lagi sedang flu, ternyata sambutan audiens luar biasa. Aplaus panjang dan sanjungan mengalir. Performa fenomenal itulah tonggak pertama Ebiet, menandai awal fokusnya pada musikalisasi puisi atau yang diistilahkan Ebiet sebagai “Membaca puisi dengan melodi”.

Penggalan kenangan itu kembali menggema di Gedung Teater Taman Budaya Tegal. Ebiet melantunkan tembang "Nobody" dan "Kubakar Cintaku", lagu yang banyak publik belum tahu.

Atmosfer Malioboro serasa hadir, terlebih ketika lagu "Yogyakarta" mengalun. Ada suasana haru tatkala denting gitar Ebiet memainkan lagu indah "Mimpi di Parangtritis". Eha sempat menitikkan airmata.

Demikianlah, Emha Ainun Najib menganggap reuni ini menjadi penanda kebangkitan 4E. Meski usia mereka rata-rata sudah kepala 6, momen ini justru harus mendorong mereka berkarya lebih hebat, mengembalikan kejayaan masa lalu. Emha minta Ebiet lebih berani seperti dulu, menghadirkan puisi kritik sosial dalam lagu-lagunya.

Setidaknya perjumpaan di Tegal ini mampu membasahi dahaga rindu mereka. Seperti kerinduan yang terepresentasikan dalam untaian bait lagu "Rinduku Menggumpal" karya Ebiet G Ade:

Kapankah kau datang? Senjakala telah mulai turun/ Aku selalu membaca ribuan cerita yang kau tulis/ Dulu kita sering berjalan seiring/ berdiskusi panjang sambil menghitung/ jejak langkah kita yang tertinggal/
Kapankah kau hembuskan semangatmu yang panas membara?/ Aku tetap percaya engkau sahabatku yang sejati/ Rinduku menggumpal, mimpiku mengkristal/ Meskipun diterjang badai prahara/ ketulusan hati tak akan tumbang.


Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT