Pemusnahan Narkoba yang dilakukan pihak kepolisian.

Jakarta - Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat angka prevalensi dari penyalahgunaan narkoba sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan data terbaru, tercatat ada 3,7 – 4,7 juta penduduk Indonesia yang menjadi pecandu narkoba (narkotika dan obat/bahan berbahaya).

Besarnya angka tersebut menyebabkan kerugian material bagi negara sebesar Rp48,2 triliun.

Sepanjang tahun 2012, terdapat sebanyak 26.458 kasus narkoba yang terdiri dari: 17.620 kasus narkotika, 1.599 kasus psikotropika, serta 7.239 kasus zat adiktif.

Sementara, jumlah tersangka yang terkait kasus narkoba ini mencapai 32.743 orang. Di lain sisi, Gerakan Nasional Anti Narkoba (GRANAT) mencatat sebanyak 50 orang per hari meninggal akibat narkoba.

Menanggapi semakin banyaknya kasus narkoba di Indonesia, Deputi Hukum dan Kerjasama Badan Narkotika Nasional (BNN) Bali Moniaga mengaku optimistis BNN bisa menangkap mafia besar pengedar narkoba.

“Banyak pengedar narkoba yang punya alat anti deteksi logam sehingga narkoba tidak terlacak saat pemeriksaan. Namun, kami tidak hanya bertumpu pada alat deteksi,” kata Bali.

Bali mengatakan bahwa BNN memiliki berbagai cara untuk menangkap pengedar narkoba. Salah satunya dengan sengaja membiarkan para pengedar narkoba lewat saat pemeriksaan untuk mencari tahu orang yang akan diberikan narkoba.

“Sepandai-pandainya mereka, kami punya alat yang bisa medeteksi mereka, kemana mereka pergi, dan apa yang mereka bawa,” tambah Bali.

Ia juga mengatakan bahwa bekerjasama dengan negara-negara lain sangatlah penting, terutama dengan negara tetangga, seperti Singapura, Thailand, Hong Kong, dan Malaysia.

“Pokoknya BNN tidak akan kompromi dengan pengedar narkoba,” ujar Bali.

Penulis: Yohannie Linggasari/YUD