Markas Polres Ogan Komering Ulu (OKU) di Sumatera Selatan (Sumsel), dibakar oleh sekelompok oknum berseragam TNI, pada Kamis (7/3) sekitar pukul 09.00 WIB.

Jakarta - Aksi unjuk rasa yang berbuntut pengrusakan Mapolres Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan (Sumsel), oleh oknum anggota tentara Yon Armed 76/15 Tarik Martapura, Kamis (7/3), dikabarkan juga memakan korban. Seorang anggota polisi dikabarkan tertusuk.

"Informasi yang saya terima, memang ada anggota kita yang ditusuk mereka. Tapi bagaimana detailnya dan apakah hanya luka atau meninggal dunia, saya belum dapat informasi. Anggota (Mapolres OKU) masih lari semua. Kita sedang konsolidasi," kata Kabid Humas Polda Sumsel, AKBP R Djarot Padakova, saat dihubungi Beritasatu.com, Kamis (7/3).

Djarot juga menceritakan jika selain Mapolres OKU dan mobil patroli, dua Pos Lantas di wilayah OKU juga ikut dirusak.

"Padahal, Kapolres OKU hendak menemui massa demonstran yang kebetulan anggota Armed itu, namun mereka terlanjur emosi," imbuh Djarot, yang mengaku belum tahu apakah okbum Armed yang diperkirakan berjumlah 70-90 orang itu berpakaian seragam atau preman saat berdemo.

Untuk diketahui, kasus ini dipicu insiden sebulan lalu, saat Pratu Her (23), anggota TNI AD Armed 76/15 Martapura, OKU Timur, tewas tertembus peluru yang diduga dilakukan Brigpol WJ, oknum anggota Polres OKU.

Kejadian tersebut kabarnya berawal saat oknum WJ (29) dari Satuan Lantas Polres OKU sedang berjaga di Pos Polantas Simpang Empat Sukajadi. Saat itu, Her melintas dengan mengendarai sepeda motor dan lalu terjadi kesalahpahaman.

Mungkin, karena merasa tersinggung, WJ bersama temannya sesama anggota polisi lantas mengejar korban, hingga terjadi cekcok. Pada saat itulah terdengar suara letusan, sehingga korban Her mengalami luka tembak.

Korban saat itu sempat dilarikan ke RS Antonio Baturaja. Akan tetapi, karena luka yang dideritanya parah, nyawa korban tidak bisa ditolong.

Untuk kasus penembakan ini, WJ sudah diproses hukum. Pada Selasa (5/3) lalu, kasus ini juga sudah direkontruksi, serta berkasnya sudah dilimpahkan ke kejaksaan untuk tahap pertama.

Penulis: Farouk Arnaz