Sekretaris Jenderal PDIP Tjahjo Kumolo.

Jakarta - PDI Perjuangan mengaku kapok dengan orang-orang yang ingin memanfaatkan jejaring partai nasionalis itu dalam merebut kekuasaan lewat pilkada. Hal ini ditegaskan Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo.

Tjahjo mengatakan, pihaknya tak ingin lagi hanya sekadar menjadi kuda tunggangan bagi pihak-pihak yang haus kekuasaan. Setelah didukung dan akhirnya sukses, para penunggang gelap itu melupakan, tak menghargai, bahkan selingkuh dengan pihak lain.

"Kami harap janganlah jadikan partai politik jadi kuda tunggangan. Contoh, di Jawa Tengah, Bibit Waluyo. Kita back up jadi. Tahu-tahu yang nanti dia keluar, pamit saja enggak," kata Tjahjo di Jakarta, Minggu (10/3).

Bibit Waluyo adalah Gubernur Jawa Tengah yang dimenangkan PDI Perjuangan pada 2008 lalu. Di pilkada tahun ini, Bibit menjadi calon lagi dengan diusung Partai Demokrat, PAN, dan Golkar.

Bibit bukan yang pertama "mengkhianati" PDI Perjuangan dengan cara demikian. Mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo alias Foke pun diusung partai itu pada 2007 lalu, namun akhirnya maju di pilkada tahun lalu diusung Partai Demokrat. Foke pun akhirnya tumbang setelah dikalahkan jagoan PDI Perjuangan Joko Widodo.

Kasus lainnya adalah mantan Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi --yang sukses setelah diusung PDI Perjuangan. Belakangan, Gamawan malah menjadi Menteri Dalam Negeri ditunjuk oleh Presiden SBY --PDI Perjuangan adalah oposisinya.

Walau kerap dikhianati demikian, Tjahjo mengatakan, pihaknya akan terus melanjutkan kaderisasi dan pemenangan calon di pilkada. Kalaupun dalam dua pilkada terakhir di Jabar dan Sumut calon yang mereka usung dikalahkan via hasil quick count, namun Tjahjo menekankan mereka tak terpengaruh.

Bahkan melihat pengalaman di dua pilkada itu dimana calon yang mereka usung selalu ditempatkan survei di urutan buncit -Rieke Diah Pitaloka-Teten dan Effendy-Jumiran, namun oleh hasil quick count selalu ditempatkan di urutan dua.

"Kalau di Jawa Tengah kami optimistis. Intinya merebut kekuasaan di daerah dengan partai, jangan sampai partai ini dilecehkan oleh orang-orang hanya untuk sebagai kuda tunggangan," tandas Tjahjo.

Penulis: Markus Junianto Sihaloho/NAD