Seorang pedagang menata bawang merah di Pasar Pagi Tegal, Jateng.

Medan - Harga bawang merah dan putih semakin tidak terkendali. Bahkan, pusaran harga bawang itu mengalami kenaikan lebih dari 200 persen. Kenaikan harga ini dikhawatirkan semakin berpeluang, mengingat pasokan dari importir melalui distributor mengalami penurunan mencapai 60 persen. Pembelian masyarakat pun menurun.

Pantauan di Pusat Pasar Medan, Kamis (14/3), harga bawang merah yang sebelumnya sebesar Rp 11.000 naik menjadi Rp 32.000/kilogram (Kg). Kemudian, harga bawang merah tersebut kembali naik menjadi Rp 35.000. Begitu juga dengan harga bawang putih, dari kisaran harga Rp 12.000/Kg mengalami kenaikan harga Rp 40.000 sampai dengan Rp 45.000.

"Kondisi ini yang membuat harga bawang merah dan bawang putih mengalami kenaikan harga secara bervariasi di berbagai pasar. Harga semakin tidak terkendali selama pemerintah tidak mengambil sikap," ujar seorang distributor bawang, Parlin Manurung (50), saat ditemui di Pusat Pasar Medan, Sumatera Utara (Sumut).

Manurung mengatakan, pasokan bawang dari importir ke distributor pun mengalami banyak penurunan. Kondisi ini semakin membuat kebutuhan masyarakat yang biasa melakukan pembelian bawang merah dan bawang putih sulit untuk terpenuhi.

Masyarakat pun semakin menjerit karena pasokan dari petani daerah, utamanya Kabupaten Simalungun dan Tanah Karo, tidak mencukupi.

"Selama ini, distributor mengandalkan pasokan bawang dari importir yang mendatangkan bawang dari Thailand, Vietnam maupun India. Pasokan itu pun tidak langsung dikirimkan melalui pelabuhan Tanjung Balai dan Belawan. Pasokan bawang itu melalui Pulau Jawa, kemudian diangkut kembali ke daerah ini. Ini juga menjadi pemicu dari kenaikan harga tersebut," katanya.

Ketua Gabungan Importir Seluruh Indonesia (GINSI) Sumut, Khairul Mahalli mengatakan, pasokan bawang putih impor melalui antarpulau, sebab berdasarkan Surat Persetujuan Impor (SPI) yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan (Kemendag), hanya diberikan untuk importir Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

Persoalan perizinan menyangkut SPI tersebut, akhirnya dikeluarkan setelah mendapatkan izin dari Kementerian Pertanian.

"Jika Kementan tidak menyetujui persoalan izin tersebut maka sulit disetujui oleh Kemendag. Soalnya, Kementan yang mengetahui secara pasti, nilai produksi lokal beserta kekurangannya, sehingga dibutuhkan pasokan bawang import dari negara luar. Budidaya petani bawang dari beberapa daerah di Sumut, tidak dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun industri," sebutnya.

Suara Pembaruan

Penulis: 155/FER

Sumber:Suara Pembaruan